Sabtu, Oktober 31, 2009

Hallo Hallo Halloween

31 Oktober adalah hari Halloween.

Ya. Halloween. Hari dimana orang-orang mengesampingkan hidup mereka sebagai manusia dengan berdandan ala hantu. Di film-film, gue sering ngeliat pas halloween ada yang berpakaian kayak vampir, werewolf, devil, hunchback, zombie, drakula dan lain-lain. Tidak lupa juga Jack-o'-Lantern dan permennya. Dan menurut gue, itu sangat keren.

Tapi kenapa Halloween enggak dirayakan di Indonesia?

Pertama, mungkin karena pada dasarnya Halloween adalah perayaan umat Kristiani. Di Indonesia yang mayoritasnya beragama Islam, perayaan tersebut mungkin agak bertentangan dengan keyakinan para Muslim.

Kedua, karena setan-setan di Indonesia sangat merepotkan. Gue enggak tau ada orang yang mau ribet-ribet berdandan ala Pocong. Ya know... dengan segala 'keterikatan' itu, tampaknya orang-orang akan memilih untuk berpakaian seperti manusia biasa aja.

Lain halnya kayak di Amerika sana, yang setannya sangat mendukung untuk ditiru. Misalnya kayak Drakula yang cuma harus pake jas berkerah setinggi tiga puluh senti atau vampir kayak di film Twilight yang berarti kalo mau jadi vampir harus punya wajah ganteng. Which is, sangat cocok buat gue. Karena gue ganteng? Enggak. Karena gue ngisep darah. Darah mudah. Lagunyah Koesh Plush.

Anyway, kalo pertanyaannya sekarang ada pesta Halloween, terus dandanan yang gue pake apa, gue akan jawab... ga ada. Untuk apa? Muka gue kan udah serem. cokelat dan penuh jerawat udah cukup untuk membuat para tuan rumah ngerasa terintimidasi dan ngasih permen ke gue.

Tapi, ya udahlah. Daripada ngerayain Halloween, mendingan ngerayain Malam Satu Suro. Lebih serem.

Presiden Pangkalan Ojek

Hidup di Jakarta, hanya sedikit orang yang bisa lepas dari ketergantungan akan jasa angkutan umum. Salah satu yang paling sering didenger mungkin adalah ojek motor.

Ya, ojek. Di posting ini, gue bakal ngebahas tentang kendaraan umum roda dua yang satu ini. Kenapa gue nulis tentang ginian? Tanya dokter. Kenapa dokter? Karena semua orang percaya sama dokter. Dokter bilang gue ganteng, ya gue percaya gue ganteng. Karena itu gue bayar mahal buat ke dokter.

*

Disadari atau tidak, ojek motor udah mendampingi hidup mayoritas orang di Jakarta dalam menempuh jalan menuju tujuannya. Banyak manfaat yang bisa kita dapet dari tukang ojek. Dia selalu nganterin kemana kita mau, terima aja kalo kita suruh muter-muter, selalu ngebuatin makanan, selalu ngerawat kalo kita sakit, nyapu, ngepel, nyetrika... kayaknya gue ketuker antara ojek sama pembantu.



Ojek adalah salah satu angkutan yang relatif murah. Murah, tergantung jarak dan bobot badan. Terkadang ojek meminta uang lebih kepada orang yang badannya 'besar' dengan alasan 'bawa dua orang'. Hemm, masuk akal.

Anyway, gue sendiri waktu SMP juga punya langganan ojek. In fact, ada satu pangkalan yang isinya ojek langganan gue semua. Sempet gue mau namain 'Pangkalan Ojek Bobby Sejahtera' tapi batal, mengingat penderitaan yang mungkin diderita anak gue nanti kalo tau nama bokapnya bukan jadi nama jalan, sekolah, tapi pangkalan ojek.

Mungkin nanti anak gue bakal nanya, "Yah, pangkalan ojek Bobby Sejahtera itu punya Ayah ya?" Gue akan jawab dengan: "Bukan, nak. Itu pangkalan ojek punya Bobby Sadino."

Kembali ke pangkalan ojek langganan tadi. Pangkalan itu terletak di deket puskesmas Pejompongan. Kalo gue lagi jalan ke arah sana, bahkan masih jauh pun salah satu tukang ojeknya ada yang ngangkat tangan. Karena ditodong. Eh, maksud gue karena nawarin diri (ini tukang ojek apa psk?) untuk meng-ojeki gue pulang.

Gue curiga kayaknya di tempat nongkrong para tukang ojeknya ada sensor yang bisa menangkap kehadiran gue dalam radius lima puluh meter. Hebat, gue ngerasa jadi presiden. Presiden pangkalan ojek.

Elit abis.

*

Ketika udah SMA, frekuensi gue naik ojek berkurang jauh. Hal ini karena gue udah berpaling kepada bis dan angkot, yang harganya jaaaaaaaaaauuuuuh lebih murah. Dari sekolah sampe rumah total uang yang gue abisin buat ongkos hanya dua ribu.

Tapi gue bingung. Beberapa tukang ojek tampaknya begitu memaksa mendapat tumpangan.

Contohnya begini. Di ujung jalan depan St. Regis yang sangat indah nan rapi sampai-sampai kalo jalan di sana menipiskan sol sepatu dan kalau naik motor lo akan merasakan getaran bagai vibrator alami dari jalan penuh batu itu, ada pangkalan ojek yang panjang.

Kalo gue lewat situ, tukang ojek yang terdekat ngangkat tangannya. Karena gue ga naik ojek, gue geleng.

Tukang ojek berikutnya, gitu juga.
Tukang ojek setelahnya, gitu lagi. Sampai ujung antrian.

Pertanyaan gue, kenapa ojek setelahnya enggak sadar kalo gue ga mau naik ojek setelah gelengan gue yang pertama? Masih aja mereka menawarkan jasa, berharap kalo tiba-tiba di tengah jalan gue kena ambeyen dan berubah pikiran untuk naik ojek.

Begitu juga di pangkalan ojek benhil. Dan yang bikin susah, pangkalan ojek di sini panjang banget. Empat kali lebih panjang dari St. Regis, karena sepanjang jalan ada ojek. Engsel kepala gue sampe kerasa mau copot saking seringnya nggeleng.

Huah.

*

Nevertheless, tukang ojek tetep menjadi pilihan gue kalo mau ketempat-tempat yang enggak bisa gue jangkau dengan angkutan umum lain (baca: males). Karena at least ojek lebih cocok dengan budget dompet gue daripada taksi.

Apa diantara Anda masih sering menggunakan ojek? Semoga selamat sampai tujuan. Periksa barang bawaan anda, dan hati-hati melangkah. Damn, ketauan deh kalo yang suka ngomong di transjakarta itu gue.

I Had My Break... Up

You know,
kadang gue mikir.

Menulis yang baik adalah menulis yang jujur.
Dan jujur, sekarang perasaan gue lagi campur aduk.

Sering gue beranggapan bahwa kesedihan enggak bisa ditolerir di blog gue ini. Gue ngebuat blog untuk senang-senang. Cerita-cerita sehari-hari, pengalaman-pengalaman gue, hal-hal yang amat sangat ultra mega kurang penting untuk dijadikan teladan bila anda adalah seseorang yang beradab.

Tapi mengingat ungkapan di atas tadi, well...

I just broke up.

Ya, dengan dia 'yang diharapkan', begitu gue nyebutnya dulu. Alasannya karena kita jarang komunikasi. True, gue sama dia udah jarang ngobrol lagi sejak gue masuk SMA. Tapi tetep aja kejadian ini adalah a hit on the head.

Dem.

Tapi kemudian gue mikir lagi, apa sih, gunanya sedih? I should let the past be, and live my life forwards.

Kesenangan jaaaaaaauh lebih asik. Mendingan kita ketawa-ketawa. Bahkan, gue pernah dikasih tau ama guru gue kalo setiap kita tertawa, umur kita menjadi lebih panjang lima menit! Oke, mulai sekarang gue bakal nabung tawa. That sounds really weird indeed.

Jadi di sini gue, dengan mengangkat dagu, menyingsingkan lengan baju, memandang lurus ke depan dan mulai berjalan.

Karena apa yang ada di depan, pasti jauh lebih menyenangkan.

First Game, First Impression

Guten taag! Wie geht's?

Ehem.

Gue enggak bermaksud pamer Bahasa Jerman gue yang waktu uts dapet 100 (oh, itu barusan pamer ya?).

*

Gue masuk tim. Tim penolak klub poligami. Oh, bukan. Gue emang ga seneng ama klub itu. Masa poligami sama empat perempuan? Maksud gue, KENAPA CUMA EMPAT?

*Diem*

Anyway, gue beneran masuk tim. Ya, tim inti baseball sekolah gue. Dengan nomer punggung 99 dan posisi outfield, gue masuk tim. Yeah! Yeaaaaaah! Dan gue ikut bermain dalam Turnamen Pelajar X dengan membawa nama SMA 3. Sampai hari ini, 3 udah ngelewatin tiga pertandingan. Dengan dua menang dan satu kalah.

Tiga menang lagi, and we'll be in the final.

*

Waktu pertama kali main, perasaan gue... gimana ya?

Deg-degan, iya.
Seneng, iya.
Takut salah, iya.
Panik, iya. Soalnya gue enggak pake celana dalem. Oke, yang itu gue boong.

Being in the field for the first time isn't like a practice. Lo bakal masang muka serem dan terus ngeliatin pitcher dan bola, kalo-kalo tiba-tiba bolanya pecah dan tangan pitchernya copot. Eh, maksud gue kalo-kalo bolanya kepukul dan melayang ke arah lo.

Waktu pertandingan pertama, itu terjadi.

Bola tiba-tiba kepukul dan menggelinding dengan cepat ke arah gue. Dan gue sambil menahan keinginan untuk teriak histeris kayak cewek langsung berlari ke arah bola dan memasukkannya ke dalam glove. Yes, dapet! Dan gue langsung lempar ke arah 2nd.

Tiba saatnya berdiri di batter box. You know... kotak persegi panjang tempat orang mukul bola itu. Ya ketika masuk ke sana, kalo orang yang mentalnya enggak kuat pasti langsung nangis dan ngasih pemukulnya ke catcher sambil bilang, "Lo gantiin gue ya, gue takuuuuut."

Hidupnya enggak akan lama lagi. Dia akan ditelen sama si pelatih.

*

Line-up tim SMA 3 untuk TP-X:
Madon, Aul, Michael, Ais, Haikal, Yan, Shodi, Anky, Barry, Aziz, Faiz, Bobby, Innu, Ridho, Yoga, Zaka, Radit, dan Adrian.

Come on guys, let's play hard!

Aum!

Jumat, Oktober 16, 2009

Menggila Bersama Rossa

Good day, angels. (oke, gue kedengeran kayak Charlie.)
Good day, twitterlings. (nope, ini bukan twitter.)
Good day, umm... good people. Yeah. That's more like it.

Sudah beberapa waktu ini gue bebas dari hal-hal yang memalukan seperti dulu waktu gue sd dan smp. Hidupku tenang, aku bebas! Sampai hari ini.

*

Minggu ini adalah exam week. Jadi dari Senin sampai Sabtu gue menjalani ulangan bersama untuk semua mata pelajaran. Tapi, kita bukan mau ngomongin ulangan, kan? Jadi... lanjut, gan.

Selama ulangan ini gue masuk jam 10:30. Ya, setengah sebelas sodara-sodara. Which means: tambahan waktu untuk tidur! Yeaaaah.

Tapi entah kenapa, giliran dikasih waktu lebih, gue malah jadi bangun pagi. Gue bangun jam lima, jam enam. Sepertinya tidur lama enggak cocok untuk gue. Mungkin karena gue morning man, yaitu orang yang kerjaannya selalu bangun pagi. Karena kebelet pipis.

Enough with the sleeping-thing!

Hari ini, gue lagi asik twitteran. (Gue tau gue harusnya belajar. But... so what?) Ternyata temen-temen sekolah gue juga banyak yang lagi online.

FYI, gue dulu waktu smp pernah ikut study tour ke Pulau Onrust, di Kepulauan Seribu. Karena pengen tau, siapa tau ada temen sma gue yang juga waktu itu ikut, gue ngetweet sebuah pertanyaan: "Dear followers, ada yang waktu smp pernah ikut study tour ke Pulau Onrust?"

Tiba-tiba temen gue, Rossa Ayu Sabilah, merespon dengan jawaban positif. Wah, seru nih! Ternyata temen sma gue ada yang ikut juga. Mulailah kita bertukar cerita.

Si Rossa bilang, "Lo inget gak sih bob ada smp yang ceweknya nyanyi talak tilu??? jangan-jangan itu dari smp lo lagi. HAHAHA"

Jujur, gue ga inget. Tapi karena enggak mau nyakitin hati orang, gue alihin dengan pertanyaan lain.

"Inget enggak lo anak cowok yang nyanyi Letto - Ruang Rindu dan sukses salah lirik? Itu gue."

Ya, waktu itu gue dengan gagah petantang-petenteng maju ke depan dan request lagu Letto tersebut kepada sang organ tunggal. Ternyata di bagian akhir lagu gue salah lirik. Enggak terlalu parah sih sebenernya.

"Yang mana? Gue gak inget, Bob," katanya inosen.

Gue gondok.
No, enggak gondok karena kekurangan yodium, tapi karena gue udah nahan-nahan mau bilang ga inget eh dia ngomong begitu dengan bahagia seolah tidak ada apa-apa.

Kita udah tau kalo kayaknya cerita ini ga klop. Sampai satu ketika:

"Sampe sekarang gue masih suka pake baju oren itu lohhhh. Hahaha," tulis Rossa.

"Oren? Bukannya bajunya warnanya putih ijo ya?" balas gue.

"Oren kok, Bob," tulis Rossa lagi.

Gue diem.

Terus Rossa nanya, "Waktu kelas 8 bukan Bob?"

"Gue kelas sembilan..." bales gue.

Rossa dan gue diem.

Saat ini,
kita sudah masuk acara Kena, Deh!

*

Jujur, itu adalah momen yang memalukan. Apalagi setelah gue sadar gue ama dia ngobrol di tempat publik yang bisa dibaca seluruh orang di dunia yaitu di twitter.

Jujur, gue dan Rossa ngakak abis itu.

Dan jujur,
ada enggak yang ikut study tour Onrust tahun 2008?

Jumat, Oktober 02, 2009

Padang, Rendang, Bagindo Digoyang

Gue pengen nasi Padang.

Entah kenapa tiba-tiba gue pengen nulis tentang Padang. Nyokap gue pernah bilang begini:

"Entar kalo udah gede, kamu nikahnya sama orang Padang ya."

Kenapa? Karena makanan daerah Padang itu enak-enak. Terutama favorit gue, rendang. Kalo gue nanti nikah ama orang Padang, setiap hari gue bakal minta rendang sebagai sarapan, makan siang, makan sore, makan malem, makan larut. Tapi niat itu gue urungkan, karena mengingat harga daging yang mahalnya minta ampun.

Huah.

Gue paling suka kalo bokap gue udah bawain nasi Padang. Bahkan bokap udah tau menu kesukaan gue, yaitu nasi, rendang, kuah gulai, sambel ijo. Wuah. That's heaven!

Haha.

*

As we know, baru-baru ini Padang diguncang bencana gempa yang dahsyat. Gue nonton berita di tv, katanya jumlah korban meninggal mencapai angka lima ratus dan terus bertambah. Ada dua mahasiswa yang selamat setelah 42 jam terjebak di reruntuhan. Puluhan siswa tertimbun dinding sekolah yang runtuh. Belasan peserta bimbel juga terjebak di reruntuhan tempat belajarnya. Dubur seorang teroris rusak, dianggap sebagai hasil sodomi. Oh, kita bukan lagi ngomongin Nurdin Tank Top.

Jujur, gue sedih denger berita gempa ini.
Jujur, gue berharap kejadian ini ga berpengaruh sama kemampuan memasak orang Padang.
Jujur, gue ngakak pas denger berita tentang dubur Noordin.

Rumah sakit M. Jamil penuh sama korban-korban bencana. Malah tenda-tenda darurat didirikan, karena ruangan rumah sakit tidak mencukupi jumlah korban. Sungguh mengenaskan. Gue pengen bantu, tapi apa daya seorang pelajar ingusan yang kerjaannya makan mulu seperti saya ini?

Yang ada pas nyampe sana bukannya gue nolongin korban bencana, gue malah nyari rumah makan Padang.

Hemm.

Gue mikir (ya, gue masih bisa mikir), apakah gempa ini mempengaruhi rumah-rumah makan yang ada di sana? Kan nanti aneh kalo ada rumah makan yang menu spesialnya Gulai Gempa, atau rumah makan baru yang namanya Bagindo Digoyang. Kedengeran kayak konser dangdut abis.

*

Walaupun begitu, kayaknya ada oknum-oknum yang memanfaatkan kejadian ini sebagai lahan mencari bisnis. Ibarat pepatah: memancing di kolam Pak RT. Eh, salah: memancing di air keruh.

Gue denger, ada seseorang Jakarta yang lagi kerja di Padang. Pas hari gempa itu, dia udah mau pulang ke Jakarta. Saat terjadi gempa, dia ngerekam layaknya kameraman amatir, mendokumentasikan bencana tersebut. Ketika dia selesai dan mau ke bandara, dia naik taksi. Tarifnya? Lima ratus ribu. Buset.

Ada lagi, harga tiket pesawat jurusan Padang (kayak bis) melonjak drastis. Dari Jakarta ke Padang, harga tiket salah satu maskapai penerbangan adalah delapan ratus empat puluh ribu. Yang lainnya, ada yang sampe satu juta tiga ratus. Are you kidding? Mereka lagi ketimpa bencana! Apa lo ga punya perasaan?

Gue malah salut dengan maskapai AirAsia yang dengan programnya AirAsia Charity bersedia menyediakan 148 kursi gratis untuk penerbangan Jakarta-Padang-Jakarta. Padahal kita tahu, AirAsia itu punya Malaysia. Negara tetangga aja mau bantu. Kalo Garuda? Enggak ada sama sekali.

What's wrong with you people?

*

Anyway, gue berharap Padang dan sekitarnya yang terkena gempa bisa pulih kembali seperti semula. Don't give up, guys!

Let's help Padang! Indonesia Unite!

Selasa, September 29, 2009

Newsflash! Aye!

Update-update lagi aah.

1. Gue tau, mungkin udah ratusan kali gue bilang di blog ini, bahwa I've been a very bad blogger. Then again, don't blame me! Blame twitter! Therefore, follow me on twitter! http://twitter.com/bobbypriambodo! Huahaha.

2. Oh iya, gue lupa ngucapin ini.

Minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin. Selamat hari raya Idul Fitri 1430 H.

Telat abis, gue tau. Tapi gue kemaren-kemaren gue lupa terus mau nulis. Yah, baru sekarang deh kesampean.

Speaking of lebaran, untuk para manusia yang masih tergolong anak-anak dan remaja pasti tak asing lagi dengan istilah angpao/salam tempel/thr. Dan selama grafik pertumbuhan usia semakin naik, maka jumlah thr dari tahun ke tahun pun semakin turun. Huah. Rese.

Tapi the good news is, uang lebaran gue masih banyak! Mueheheh.

3. Sebetulnya, di musim liburan ini, sekolah gue ngasih banyak pr. Tapi... gue totally lupa. Hemm.

4. Kembali ke tiga hari sebelom lebaran, gue sempet sakit berat. Malem-malem, jam 9 sampe jam 6 pagi. I'll tell you later about it.

5. Hari Minggu kemaren akhirnya gue latihan baseball lagi. Ya. AKHIRNYA. Glove gue udah merengek-rengek minta dipake tuh. Which is, serem juga kalo tiba-tiba glove gue beneran narik-narik baju gue. Oh yeah, jadinya Minggu kemaren gue latihan batting. Sekali lagi, AKHIRNYA. Gue bisa ngerasain mukul bola kecil itu menggunakan bat yang sering gue liat di PS Manhunt digunakan untuk mukulin orang. Mwahahahaha.

Upcoming event: Turnamen Pelajar X, tanggal 12 Oktober. Teladan bakal main. Dan tim diperkuat lima belas orang. I have to be on that team! Uoh!

6. Gue baru bikin Tumblr. Oke, gue tau gue sangat #ketinggalanjaman. Tapi... who cares? Visit me at http://pelajarbodoh.tumblr.com

7. Gue lagi suka ngomong pake bahasa bajak laut nih. Haha. English, of course. Karena gue belom pernah liat film bajak laut Indonesia. Adanya Mancing Mania.

*

Okay. Gue ngerasa tempo gue nulis hari ini agak sedikit cepat. Enggak seperti biasanya. Tapi biarin lah.

That's it for now, lad.

Aye! Catch ya' later! Savy?

Senin, September 28, 2009

And That Growing Up Thing

Gue ngerasa,
gue berubah.

Bukan, bukan berubah jadi Power Ranger Merah. Ataupun berubah jadi psycho dan homo serta mulai memotong-motong orang kayak seorang pelaku mutilasi dari daerah asalnya Dewi Persik itu. Enggak, gue cuma ngerasa gue udah enggak kayak dulu lagi. Contohnya, sekarang gue ngupil pake tangan (emang biasanya pake apa?).

Anyway, gue beneran ngerasa sifat gue berubah. Yang paling kerasa sih kayaknya gue jadi enggak lucu. Kalo lo merhatiin gue di twitter (sekaligus promosi twitter gue @bobbypriambodo ^o^), gue jarang ngeluarin banyolan-banyolan lagi. Lebih sering curhat.

Inikah yang dinamain beranjak dewasa? Atau justru gue malah jadi kekanak-kanakan?

Hmm.

*

Speaking of growing up, gue sering mikirin gimana gue nanti kalo udah dewasa.

To be honest, sebenernya gue itu orangnya sangat parent-ish. Gue punya kecenderungan protektif, terhadap siapa pun atau apa pun yang gue sayang.

Dan lagi, gue mengagumi anak kecil perempuan. Bukannya gue pedofil atau apa, tapi gue nganggep anak perempuan itu adalah karunia yang paling berharga. Mengutip kata-kata tokoh paling antagonis di buku Peter Pan and the Shadow Thieves, Lord Ombra:

'A father have a special place in his heart for his daughter.'
atau,
'Seorang ayah mempunyai tempat yang istimewa di hatinya, untuk anak perempuannya.'

Tempat yang istimewa. Ya. Seorang ayah enggak akan pernah mau anak perempuannya kenapa-kenapa. Bukan merendahkan anak laki-laki, karena gue sendiri juga laki-laki (ya, gue berjenggot), tapi menjaga anak perempuan itu lebih susah daripada menjaga anak laki-laki.

Seorang ayah enggak akan mau anak perempuannya mendapat masalah. Apalagi kalo gue nanti punya anak perempuan, gue enggak bakal mau anak gue dapet masalah karena niru-niru bapaknya jadi orang bodoh. Cukup gue aja yang menanggung itu. Cukup gue ajaaa!! *dengan pistol yang mengarah ke kepala*

Bum.

*

Ehem.

I know, I talk too much for a kid that have only lived for 15 years now. But really, it is what I think.

Sebenernya dari dulu gue pengen banget punya adek perempuan. Tapi sayangnya Tuhan tidak menghendaki, jadilah gue punya adek cowok. Yang cantik (dulunya, sekarang mah nyebelin).

I have a dream, ya know, gue bisa sukses dan hidup di Manchester, Inggris, di rumah yang damai khas England dengan istri dan anak-anak gue. Again, it would be a miracle.

Huh.

Such a dreamer, ain't I?

Kamis, September 03, 2009

Email Baru dan Gempa

Okay.

First of all, gue tau zaman udah berubah dari zaman batu ke zaman es sejak gue terakhir posting. Kegiatan gue kebanyakan, tidur gue juga tambah banyak. Alhasil, blog gue tertinggal. I'm sorry for all of you readers! (kayak punya aja)

Second, gue pengen ngasih tau kalo alamat email primer gue berubah. Jadi bagi anda-anda yang kekurangan pekerjaan dan ingin mendapat email balasan berisi sesuatu yang tidak penting atau penting (kadang-kadang) dapat menghubungi gue di:

bobby.priambodo@gmail.com

Email yang kamu terima, langsung dari aku lho!

Other note, gue mulai bosen (lagi) dengan layout blog gue. Yah, gue yang bikin sendiri ini, jadi gue enggak merasa terlalu bersalah. Ayo, kita berjuang untuk mengubahnya lagi...

*

Selama puasa ini kerjaan gue hampir sama. Sahur, subuh, tidur 15 menit, bangun, mandi, sekolah, pulang, zuhur, tidur, bangun, ashar, online sampe maghrib, buka, maghrib, online lagi, isya, tidur lagi, dan kembali ke awal. Tambahan di hari Kamis dan Minggu, ada latihan baseball.

Gue bosen. Tapi gue males.
Gue pengen ngelakuin sesuatu. Tapi gue capek. (jadi apa maksud lo nulis begini, Bob?)

*

Oh iya, kemaren kan ada gempa.

7.4 SR yang berpusat di Tasikmalaya itu menggetarkan hampir seluruh daerah di pulau Jawa. Pas kejadian, gue lagi tidur.

Sendirian di rumah. Listrik enggak ada yang nyala kecuali kipas angin (gue tidur diluar) dan charger hp gue. Hp gue lagi nyanyiin lagu Blink182 - Not Now. Pas si Tom nyanyiin bagian ini:

'God has the master plan and I guess, I am in His demand.'

Tiba-tiba sofa tempat gue tidur goyang. Gue kira darah rendah gue kambuh. Tapi gue inget-inget, frekuensi kambuhnya udah berkurang jauh. Kemungkinan kedua, gue sakaw gery chocolatos. Gue udah mau beranjak nyari satu, tapi gue inget gue lagi puasa. Terus tiba-tiba diluar ada yang teriak.

'Sooool sepatu!'

Eh, bukan itu. Tapi ini:

'GEMPAAAA!!!!'

Kemudian sel-sel diotak gue langsung bekerja. Pada saat gempa, hal yang pertama dilakukan adalah... gosok gigi. Bukan! Lari keluar rumah dan matiin aliran listrik, ya! Lalu gue langsung ngibrit keluar.

Terus gue ngerasa; bumi gonjang-ganjing. Gue berasa terombang-ambing kayak naik kapal. Dalam hati gue kebayang mungkin ini rasanya kalo lagi nonton Trio Macan konser terus mereka joget dan teriak 'Jakarta digoyaaaaaang!'.

Tetangga-tetangga gue pada berhamburan keluar kayak tokai abis disiram (analogi yang menjijikkan, gue tau). Pada khawatir. Ada ibu yang ngegendong anaknya. Ada bapak-bapak pake kaos sama celana pendek doang. Ada cewek ama cowok pegangan tangan, lalu si cowok menyatakan cinta. Oke, yang itu gue boong.

Selama kejadian seru itu, gue baru sadar: hp gue ada di tangan. Enggak ngebuang kesempatan, gue langsung online twitter dan facebook.

Bener aja, di dunia nyata gempa, di sana juga gempa. Gempa status.

Otak kritis gue meledak-ledak. Ia ngebisikin gue 'Wah, dasar. Orang-orang ada bencana bukannya nyelametin diri malah ngambil hp terus update status'.

Gue tulis kata-kata itu di status facebook gue. Ada empat belas orang yang mencet tombol Like.

*

Peristiwa ini mungkin adalah peringatan dari Tuhan Yang Maha Esa kalo kita umatnya udah banyak yang tidak inget pada-Nya. (Bener aja: pasca-gempa, orang-orang berbondong-bondong ke masjid untuk shalat ashar).

Ini munculin pertanyaan lagi: apakah orang Indonesia hanya bisa melakukan suatu hal yang benar bila digertak terlebih dahulu?

Contoh sederhana. Bom Marriot-Ritz, mal-mal dan kedutaan langsung meningkatkan keamanannya. Malaysia ngeklaim kebudayaan Indonesia, pemerintah baru ngegalakin menteri pariwisatanya. Terus sekarang, gempa, segelintir orang baru buru-buru pengen tobat ke Allah SWT, padahal biasanya inget aja enggak.

Aduh, gue jadi kedengeran kayak ustadz-ustadz di acara sahur.

Yah, pokoknya gue berharap aja semoga peristiwa gempa ini lebih meningkatkan kesadaran orang Indonesia untuk beribadah kepada Tuhannya.

God bless Indonesia, Indonesia Unite.

Sabtu, Agustus 22, 2009

Sahur Pertama Bersama Kecoa

Awalnya pas gue abis online twitter. Abis janji-janjian ama anak-anak tweeps supaya online pas nanti sahur. Kira-kira jam sepuluh, gue cabut ke kamar untuk tidur. Tiba-tiba nyokap gue masuk sambil ngebawa-bawa semprotan nyamuk ke dalem kamar.

'Bob, tadi ada kecoa masuk sini. Kalo ketemu semprot ya.' kata nyokap gue.

'Sip... tenang aja, begitu sampai sini, nyawanya udah ilang!' kata gue pe-de.

Nyokap naro semprotan nyamuk itu di sebelah tempat tidur gue. Merasa senjata udah di tangan, gue tidur.

Gue tidur tanpa mimpi apa-apa. Kira-kira jam setengah dua belas, gue ngerasa geli-geli di sekitar perut gue. Enggak menduga apa-apa, gue hanya ngibasin tangan ke arah sana dan tidur lagi dengan damai.

Jam setengah satu, rasa geli-geli itu datang lagi. Kemudian gue inget--

Kecoa yang tadi!

Gue langsung bangun, ngambil semprotan nyamuk tadi dan langsung menyemprotin cairan itu ke wajah si Kecoa. Pusing keliyeng giyung, kecoa itu lari ke belakang lemari gue.

Gue ngos-ngosan. Pusing karena langsung bangun dari posisi tidur. Otot gue mengejang. Dari mulut gue keluar busa (ini kaget apa overdosis?).

Gue langsung berpikir. Apa yang menyebabkan kecoa itu jalan-jalan di perut gue? Kalo gue inget-inget, cerita ini hampir mirip dengan kejadian di danau towuti yang lalu.

Jangan-jangan. Ini adalah semacam aksi balas dendam akibat ketidak pedulian gue.

Abis itu, gue tidur lagi.

Abis itu, gue telat bangun sahur (jam empat gue baru bangun!).

Gue memutuskan,
Enggak akan berurusan dengan kecoa lagi.