Sebagaimana kita tau, umumnya di SMA ada dua jurusan, yaitu IPS dan IPA. IPS yang menyajikan Geografi, Sosiologi, dan Ekonomi, dan IPA yang mengujungtombakkan Biologi, Kimia, dan Fisika.
Yah, that's theoritically. Kenyataannya, banyak yang memilih jurusan bukan karena alasan pelajarannya, melainkan karena faktor-faktor X yang berada di dalam dirinya.
Sebagai contoh, kebanyakan masyarakat IPS terbagi atas tiga jenis, yaitu:
1. Para 'pelarian' dari eksakta. Ya, banyak orang yang memilih IPS karena mereka enggak mau 'ketemu' dengan Fisika, Kimia, dan Matematika IPA yang identik dengan hitung-hitungan.
2. Murid-murid 'buangan'. Bukan maksud menyinggung, tapi memang kenyataannya murid yang naik kelas dengan nilai pas-pasan atau bersyarat, seringkali dimasukkan oleh sekolah ke jurusan IPS.
3. Orang-orang yang ingin belajar Geografi, Sosiologi, dan Ekonomi. Menurut lo, jumlahnya banyak atau sedikit?
Begitu juga dengan yang masuk jurusan IPA. Sebagian besar adalah orang-orang yang merasa keren bila menyandang titel IPA di punggungnya (atau dadanya? Ah, you got the point). Padahal nantinya, bila mereka ternyata tidak berminat di pelajaran-pelajaran IPA, mereka akan susah sendiri.
Let's see it this way: kalo IPS terus-terusan--seperti yang gue bilang tadi--dijadikan kelas 'buangan', kapan Indonesia akan punya ahli-ahli Geografi dan Sosiologi? Karena yang belajar di jurusan IPS nantinya hanyalah orang-orang dengan anggapan 'Yang Penting Lulus' di otak mereka, enggak peduli ilmunya apa.
Jujur, gue mau masuk IPA. Dan menurut gue, itu rasional; karena nantinya gue ingin melanjutkan ke Teknik Informatika, dan itu butuh dukungan dari ilmu-ilmu di jurusan IPA. Artinya, gue menganggap pilihan gue bertujuan konkrit yang rasional dan positif, yaitu sebagai penunjang masa depan.
Kenapa jarang sekali gue nemuin orang yang memang sengaja masuk IPS karena ia bercita-cita bekerja di BMG, atau ingin berkuliah jurusan Geodesi dan sebagainya, tetapi kebanyakan karena tidak ingin mendapatkan Fisika. Melakukan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu dan melakukan sesuatu untuk tidak mendapatkan sesuatu, gue pikir jelas mana yang lebih efektif.
*
Waktu itu, pas upacara, kepsek gue pernah ngomong, "Seleksi masuk jurusan IPA akan diperketat, makanya jangan main-main."
Pemilihan kalimat yang diskriminatif, sebetulnya. Kenapa hanya IPA? Apa dengan begitu, orang yang ingin masuk IPS boleh main-main? Kenapa enggak seleksi naik kelas yang diperketat, tanpa melihat IPA atau IPS? Karena dengan begitu, semua siswa tidak akan 'main-main' supaya bisa naik kelas.
Jadi kalo menurut gue, sekolah harusnya mengadakan sosialisasi jurusan. Dikenalkan dengan kemungkinan-kemungkinan yang ada bila mereka lulus dari jurusan itu nantinya. Ke mana meneruskan kuliah, bidang apa yang mungkin dimasuki, semata agar siswa termotivasi untuk mencapai cita-citanya. Supaya yang nantinya masuk jurusan IPS dan IPA adalah orang-orang yang benar-benar ingin belajar IPS dan IPA. Bukan untuk melarikan diri dari sesuatu.
Thursday, May 27, 2010
Thursday, May 20, 2010
An Unexpected Advice
Gue lagi ada di angkot dalam perjalanan pulang ketika seorang laki-laki tua masuk ke dalam angkot itu.
Seandainya laki-laki itu biasa saja, pasti gue juga udah enggak terlalu memperhatikan. Tapi penampilannya yang membawa gitar, usia sekitar empat-puluhan, memakai kacamata, rambut acak-acakan, kemeja lusuh dan celana jeans membuatnya tampak unik, kayak seniman jalanan. Ketika naik, ia berkata, "Oke, mas! numpang ya."
Kemudian angkot jalan lagi.
Gue udah mulai lupa tentang si pria bergitar itu saat tiba-tiba pundak gue dipegang. Ketika gue nengok, ternyata yang megang adalah si laki-laki itu!
Gue mulai was-was. Dia megang pundak gue dan ngeliatin gue selama beberapa detik. Pikiran gue mulai negatif.
Mungkin dia penghipnotis.
Mungkin gue mau disodomi dan dimutilasi.
Mungkin gitarnya sebenarnya adalah bazooka dan akan digunakan untuk nodong gue.
Mungkin gue akan diajak nonton konser Kangen Band. Itu yang paling buruk.
Laki-laki itu membuka mulut. Gue takut akan ada ular keluar dari sana, ternyata enggak.
"Kelas berapa?" dia bertanya.
"Satu, pak," diriku menjawab.
"SMA?"
"Iya."
Kata orang, mata adalah cerminan paling jelas sifat seseorang. Dan saat itu gue ngeliat matanya, yang entah gimana ternyata terlihat begitu bersahabat. Kayaknya ga mungkin dia orang jahat, pikir gue.
"Tuntut ilmu yang bener, ya. Jangan ikut tawur-tawuran. Tawuran begitu, hanya bikin repot. Kalau luka atau meninggal, orang tua juga yang kena batunya. Belajar yang rajin, supaya jadi orang sukses nantinya."
Gue yang baru sadar kalo lagi dinasehatin, hanya bisa ngejawab, "Iya."
Enggak lama setelah kuliah singkat itu, sang seniman turun dan berkata, "Terima kasih tumpangannya, mas," dan melayangkan senyum kepada sang supir. Ketika dia berjalan pergi dan angkot melaju lagi, ada dua hal yang terpikir di kepala gue.
Yang pertama,
gue ingin jadi seniman. Biar bisa naik angkot gratis seperti tadi.
Yang kedua,
ternyata masih ada orang yang peduli terhadap pendidikan negeri ini. Walaupun ia hanya seorang seniman jalanan atau apa, ia juga prihatin terhadap kondisi pelajar Indonesia dan maraknya tawuran pelajar dewasa ini.
Pak Gitar (yang saya tak tahu namanya), saya berjanji akan terus belajar dengan baik, supaya bisa meneruskan perjuangan negeri ini. Dan saya juga berjanji, sampai kapan pun, untuk tidak akan pernah ikut tawuran. Apalagi arisan.
Oh, itu beda ya.
Seandainya laki-laki itu biasa saja, pasti gue juga udah enggak terlalu memperhatikan. Tapi penampilannya yang membawa gitar, usia sekitar empat-puluhan, memakai kacamata, rambut acak-acakan, kemeja lusuh dan celana jeans membuatnya tampak unik, kayak seniman jalanan. Ketika naik, ia berkata, "Oke, mas! numpang ya."
Kemudian angkot jalan lagi.
Gue udah mulai lupa tentang si pria bergitar itu saat tiba-tiba pundak gue dipegang. Ketika gue nengok, ternyata yang megang adalah si laki-laki itu!
Gue mulai was-was. Dia megang pundak gue dan ngeliatin gue selama beberapa detik. Pikiran gue mulai negatif.
Mungkin dia penghipnotis.
Mungkin gue mau disodomi dan dimutilasi.
Mungkin gitarnya sebenarnya adalah bazooka dan akan digunakan untuk nodong gue.
Mungkin gue akan diajak nonton konser Kangen Band. Itu yang paling buruk.
Laki-laki itu membuka mulut. Gue takut akan ada ular keluar dari sana, ternyata enggak.
"Kelas berapa?" dia bertanya.
"Satu, pak," diriku menjawab.
"SMA?"
"Iya."
Kata orang, mata adalah cerminan paling jelas sifat seseorang. Dan saat itu gue ngeliat matanya, yang entah gimana ternyata terlihat begitu bersahabat. Kayaknya ga mungkin dia orang jahat, pikir gue.
"Tuntut ilmu yang bener, ya. Jangan ikut tawur-tawuran. Tawuran begitu, hanya bikin repot. Kalau luka atau meninggal, orang tua juga yang kena batunya. Belajar yang rajin, supaya jadi orang sukses nantinya."
Gue yang baru sadar kalo lagi dinasehatin, hanya bisa ngejawab, "Iya."
Enggak lama setelah kuliah singkat itu, sang seniman turun dan berkata, "Terima kasih tumpangannya, mas," dan melayangkan senyum kepada sang supir. Ketika dia berjalan pergi dan angkot melaju lagi, ada dua hal yang terpikir di kepala gue.
Yang pertama,
gue ingin jadi seniman. Biar bisa naik angkot gratis seperti tadi.
Yang kedua,
ternyata masih ada orang yang peduli terhadap pendidikan negeri ini. Walaupun ia hanya seorang seniman jalanan atau apa, ia juga prihatin terhadap kondisi pelajar Indonesia dan maraknya tawuran pelajar dewasa ini.
Pak Gitar (yang saya tak tahu namanya), saya berjanji akan terus belajar dengan baik, supaya bisa meneruskan perjuangan negeri ini. Dan saya juga berjanji, sampai kapan pun, untuk tidak akan pernah ikut tawuran. Apalagi arisan.
Oh, itu beda ya.
Thursday, May 13, 2010
We've Got A Planet To Save!
Halo.
Sebenernya mood gue hari ini agak setengah-setengah (hampir setengah-setengah, tapi setengah setengah-setengah, err...), dan dua faktor penyebabnya adalah cuaca yang aneh belakangan ini serta tangan gue yang keseleo saat main futsal pagi tadi. Akhirnya hati gue gundah gulana. Resah gelisah. Enggak enak deh pokoknya. Untungnya yang keseleo tangan kiri, jadi gue masih bisa nulis. Meskipun gue bingung gimana cara gue cebok nantinya.
Ehem.
Tapiiiii... atas berkat rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan permintaan rekan saya Dana untuk meng-update blog saya ini, jadilah post ini saya tulis dengan sebaik-baiknya dan sebenar-benarnya. Yosh.
Terima kasih untuk Dana karena telah menjadi pembaca setia blog ini. Lo enggak gue sogok kan? Enggak kan? Bilang aja enggak, nanti gue tambahin sepuluh ribu deh.
*
Speaking of cuaca, emang cuaca di Jakarta sekarang-sekarang ini nggak jelas ya? Seharusnya mulai April kemaren udah masuk musim kemarau, tapi nyatanya, kayak hari ini, ujan deres. Padahal paginya panas sepanas-panasnya panas, kalo kata Jason Mraz: "You're so hot that I'm melting."
Usut punya usut, ternyata ini adalah salah satu efek global warming atawa pemanasan global. Emang saking seringnya diomongin, jadi terkesan overrated dan klise. Tapi, itulah yang terjadi.
Minggu kemaren, di pelajaran Kimia, gue beserta kelompok yang ditugaskan membuat sebuah poster membuat satu tentang pemanasan global. Dan jreng-jreng, inilah poster kami:

Di kelas itu, gue dan kawan-kawan ditugaskan mempresentasikan poster itu. Akhirnya jadilah sebuah ajang diskusi juga dengan Pak Iman, guru Kimia gue, tentang pemanasan global.
Kenapa jalanan di Jakarta panas banget? Jawabannya ada tiga.
Yang pertama, adalah karena banyaknya kendaraan bermotor.
Sebenernya kalo gue bilang, kendaraan bermotor emang adalah pemberi kontribusi paling besar atas hal ini. Alasannya juga banyak: mesin mobil mengeluarkan panas. Bayangin kalo setiap hari jalanan Jakarta dilalui ribuan mobil dengan mesin panas, maka pasti panas itu ter-radiasi ke sekitarnya.
Hasil pembakaran bahan bakar juga. Pembakaran yang enggak sempurna menghasilkan gas CO (carbon monoxyde) yang massa jenisnya lebih rendah daripada udara, sehingga gas itu terus naik ke atas. Terima kasih untuk CO, lapisan ozon kita jadi berlubang-lubang. CO juga bersifat racun bagi tubuh manusia.
Sedangkan pembakaran yang sempurna menghasilkan gas CO2 (carbon dioxyde). Yang satu ini massa jenisnya lebih besar, sehingga CO2 enggak melayang, melainkan tetap di permukaan bumi. CO2 inilah yang ngebuat udara panas.
Yang kedua, adalah penggunaan AC di gedung-gedung dan rumah-rumah.
Seperti yang kita tahu, freon dari AC juga berperan dalam merusak lapisan ozon. Tapi bukan cuma itu. Pemakaian AC di dalam ruangan yang notabene diatur dingin banget (antara 16 - 20 derajat celcius) juga bikin panas. Kenapa? Udara panas yang ada di dalam ruangan dialirkan keluar, bayangin aja; di luar udah panas, eh ditambah panas lagi.
Karena berada di ruangan yang dingin, otomatis tubuh manusia akan menyesuaikan dengan kondisi sekitarnya. Karena udah beradaptasi dengan udara dalam ruangan, begitu keluar -- DUAR. Panas menyengat luar biasa, dan panas yang dirasain oleh orang yang baru dari ruangan dingin akan terasa lebih beberapa kali lipat.
Dan yang ketiga, adalah kurangnya yang hijau-hijau.
Bukan, bukan tahi ayam. Bukan juga upil. Upil udah begitu berlebih; bermilyar-milyar manusia di bumi, dengan masing-masing punya dua lubang hidung, gue heran bumi belom tertutup olehnya. Bukan, hijau yang gue maksud adalah tumbuhan.
Yep, teman-teman dari Kingdom Plantae itulah yang harusnya mengurangi kadar CO2 di udara. Tetapi yang terjadi adalah hutan ditebang dimana-mana. Alhasil, CO2 tetap merajalela. Panas, ya?
*
Oleh karena tersentuh dengan sesi diskusi tersebut (dan sebagai pertanggungjawaban sebagai orang yang mempresentasikannya), gue jadi pengen berperan untuk mengurangi pengrusakan bumi ini. Mulai dari yang paling gampang: naik sepeda.
Sejak acara Fun Bike sekolah beberapa waktu lalu, gue telah membetulkan sepeda Federal tua gue. Dan akhir-akhir ini, gue udah mulai sering ke sekolah naik sepeda. Asyik ternyata, mengayuh pelan-pelan di kesunyian jalanan pagi hari, ditemani mentari yang masih mengintip dibalik tidurnya, serta semilir sejuk angin yang menerpa setiap senti kulitku... satu kalimat lagi dan gue akan jadi penerus Chairil Anwar.
Anyhow, kata seorang guru olahraga gue, katanya bila situasi memungkinkan, tahun ajaran depan sekolah gue akan membuat komunitas sepeda. Fun, is it not? Sehat sekaligus menyelamatkan lingkungan.
*
Udah ah, gue akhiri post ini sampai sini aja. Karena mungkin kalo lebih panjang lagi, gue bisa kepilih jadi duta penyelamatan lingkungan UNICEF atau apa. Akhir kata, mengutip kata-kata dari film Chicken Little:
"Come on, Dad! We've got a planet to save!"
Sebenernya mood gue hari ini agak setengah-setengah (hampir setengah-setengah, tapi setengah setengah-setengah, err...), dan dua faktor penyebabnya adalah cuaca yang aneh belakangan ini serta tangan gue yang keseleo saat main futsal pagi tadi. Akhirnya hati gue gundah gulana. Resah gelisah. Enggak enak deh pokoknya. Untungnya yang keseleo tangan kiri, jadi gue masih bisa nulis. Meskipun gue bingung gimana cara gue cebok nantinya.
Ehem.
Tapiiiii... atas berkat rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan permintaan rekan saya Dana untuk meng-update blog saya ini, jadilah post ini saya tulis dengan sebaik-baiknya dan sebenar-benarnya. Yosh.
Terima kasih untuk Dana karena telah menjadi pembaca setia blog ini. Lo enggak gue sogok kan? Enggak kan? Bilang aja enggak, nanti gue tambahin sepuluh ribu deh.
*
Speaking of cuaca, emang cuaca di Jakarta sekarang-sekarang ini nggak jelas ya? Seharusnya mulai April kemaren udah masuk musim kemarau, tapi nyatanya, kayak hari ini, ujan deres. Padahal paginya panas sepanas-panasnya panas, kalo kata Jason Mraz: "You're so hot that I'm melting."
Usut punya usut, ternyata ini adalah salah satu efek global warming atawa pemanasan global. Emang saking seringnya diomongin, jadi terkesan overrated dan klise. Tapi, itulah yang terjadi.
Minggu kemaren, di pelajaran Kimia, gue beserta kelompok yang ditugaskan membuat sebuah poster membuat satu tentang pemanasan global. Dan jreng-jreng, inilah poster kami:

Di kelas itu, gue dan kawan-kawan ditugaskan mempresentasikan poster itu. Akhirnya jadilah sebuah ajang diskusi juga dengan Pak Iman, guru Kimia gue, tentang pemanasan global.
Kenapa jalanan di Jakarta panas banget? Jawabannya ada tiga.
Yang pertama, adalah karena banyaknya kendaraan bermotor.
Sebenernya kalo gue bilang, kendaraan bermotor emang adalah pemberi kontribusi paling besar atas hal ini. Alasannya juga banyak: mesin mobil mengeluarkan panas. Bayangin kalo setiap hari jalanan Jakarta dilalui ribuan mobil dengan mesin panas, maka pasti panas itu ter-radiasi ke sekitarnya.
Hasil pembakaran bahan bakar juga. Pembakaran yang enggak sempurna menghasilkan gas CO (carbon monoxyde) yang massa jenisnya lebih rendah daripada udara, sehingga gas itu terus naik ke atas. Terima kasih untuk CO, lapisan ozon kita jadi berlubang-lubang. CO juga bersifat racun bagi tubuh manusia.
Sedangkan pembakaran yang sempurna menghasilkan gas CO2 (carbon dioxyde). Yang satu ini massa jenisnya lebih besar, sehingga CO2 enggak melayang, melainkan tetap di permukaan bumi. CO2 inilah yang ngebuat udara panas.
Yang kedua, adalah penggunaan AC di gedung-gedung dan rumah-rumah.
Seperti yang kita tahu, freon dari AC juga berperan dalam merusak lapisan ozon. Tapi bukan cuma itu. Pemakaian AC di dalam ruangan yang notabene diatur dingin banget (antara 16 - 20 derajat celcius) juga bikin panas. Kenapa? Udara panas yang ada di dalam ruangan dialirkan keluar, bayangin aja; di luar udah panas, eh ditambah panas lagi.
Karena berada di ruangan yang dingin, otomatis tubuh manusia akan menyesuaikan dengan kondisi sekitarnya. Karena udah beradaptasi dengan udara dalam ruangan, begitu keluar -- DUAR. Panas menyengat luar biasa, dan panas yang dirasain oleh orang yang baru dari ruangan dingin akan terasa lebih beberapa kali lipat.
Dan yang ketiga, adalah kurangnya yang hijau-hijau.
Bukan, bukan tahi ayam. Bukan juga upil. Upil udah begitu berlebih; bermilyar-milyar manusia di bumi, dengan masing-masing punya dua lubang hidung, gue heran bumi belom tertutup olehnya. Bukan, hijau yang gue maksud adalah tumbuhan.
Yep, teman-teman dari Kingdom Plantae itulah yang harusnya mengurangi kadar CO2 di udara. Tetapi yang terjadi adalah hutan ditebang dimana-mana. Alhasil, CO2 tetap merajalela. Panas, ya?
*
Oleh karena tersentuh dengan sesi diskusi tersebut (dan sebagai pertanggungjawaban sebagai orang yang mempresentasikannya), gue jadi pengen berperan untuk mengurangi pengrusakan bumi ini. Mulai dari yang paling gampang: naik sepeda.
Sejak acara Fun Bike sekolah beberapa waktu lalu, gue telah membetulkan sepeda Federal tua gue. Dan akhir-akhir ini, gue udah mulai sering ke sekolah naik sepeda. Asyik ternyata, mengayuh pelan-pelan di kesunyian jalanan pagi hari, ditemani mentari yang masih mengintip dibalik tidurnya, serta semilir sejuk angin yang menerpa setiap senti kulitku... satu kalimat lagi dan gue akan jadi penerus Chairil Anwar.
Anyhow, kata seorang guru olahraga gue, katanya bila situasi memungkinkan, tahun ajaran depan sekolah gue akan membuat komunitas sepeda. Fun, is it not? Sehat sekaligus menyelamatkan lingkungan.
*
Udah ah, gue akhiri post ini sampai sini aja. Karena mungkin kalo lebih panjang lagi, gue bisa kepilih jadi duta penyelamatan lingkungan UNICEF atau apa. Akhir kata, mengutip kata-kata dari film Chicken Little:
"Come on, Dad! We've got a planet to save!"
Thursday, April 22, 2010
Bunga, Bulan, Phoenix, dan Matahari
Suatu hari, pria dan wanita bertemu. Mereka bicara tentang cinta dan harapan.
Sang wanita bertanya, "Kalau aku jadi bunga, kau akan jadi apa?"
"Matahari," jawab sang pria.
Sang wanita heran. Kenapa pria tak ingin menjadi kupu-kupu atau kumbang, yang bisa senantiasa menemaninya hingga akhir waktu?
Ia bertanya lagi, "Kalau aku jadi bulan, kau akan jadi apa?"
"Matahari," jawab pria lagi.
Kedua kalinya sang wanita heran. Kenapa pria ingin menjadi matahari, padahal ia tahu bulan dan matahari tak pernah bertemu?
Sekali lagi, wanita bertanya, "Kalau aku jadi phoenix, kau akan jadi apa?"
"Matahari," pria itu menjawab untuk ketiga kalinya.
Wanita itu kesal. Ia sudah tiga kali berubah, yang terakhir menjadi phoenix yang bisa terbang tinggi melewati matahari, tapi pria tetap saja ingin menjadi matahari. Tanpa berusaha menanyakan alasannya, wanita itu melangkah pergi. Sang pria memandangi kepergiannya dengan sedih.
*
Sebenarnya, kalau saja wanita tinggal lebih lama untuk mendengarkan penjelasannya, mungkin ia akan berubah pikiran.
Alasan kenapa pria memilih menjadi matahari ketika wanita menjadi bunga, karena matahari memberi kehidupan kepada bunga. Tidak sekadar menemani. Membiarkan kecantikan bunga itu tetap abadi tanpa mengharap apapun sebagai bayaran. Pemberian tanpa pamrih, itu alasan pertama.
Alasan kenapa pria juga memilih menjadi matahari ketika wanita menjadi bulan, adalah agar bulan bisa tetap bersinar. Karena sinar bulan merupakan pantulan dari sinar matahari, dan matahari tetap setia memberikan sinarnya meskipun malam tiba, agar manusia bisa mengagumi keindahan bulan, walaupun dirinya terlupakan. Kesetiaan, adalah alasan kedua.
Alasan kenapa pria lagi-lagi memilih menjadi matahari ketika wanita menjadi phoenix yang bisa terbang jauh hingga di atas matahari, adalah agar sang wanita bisa pergi kapan saja, tanpa dirinya untuk menghalang-halangi. Sang phoenix bisa terbang kemana saja, sementara matahari menunggunya dengan cinta yang membara di dalamnya. Ia menjadi matahari yang diam, karena bila sang phoenix ingin kembali, ia akan ada di sana, tak kemana-mana. Lapang dada, itu alasan yang terakhir.
Tapi apa daya, sekarang sang bunga, sang bulan, dan sang phoenix telah pergi. Tinggal ada pria, sendirian bersama matahari di atas sana, dengan cinta yang membara di dalam hati.
==========
Sebenernya ini bukan cerita yang gue buat. Gue denger cerita ini pagi tadi di radio yang gue lupa apa namanya.
Dari cerita ini, kita bisa lihat bahwa niat baik tak selamanya menuai hasil baik. Terlihat dari tindakan sang wanita yang langsung pergi sebelum sang pria sempat menjelaskan maksudnya. Dan, well... gue ngerasa cerita ini sangat besar maknanya. Bagaimana sang wanita dengan kesal pergi ketika sang pria tak menjawab sesuai dengan keinginannya.
Karena cinta begitu rumit, begitu kompleks. Seperti kata Einstein, semua sangat relatif. Tak ada sesuatu pun di dunia ini yang pasti. Seperti bagaimana semua orang di hidup kita datang dan pergi begitu saja. Dan pada akhirnya, hanya akan ada kita dan ketidakpastian itu sendiri.
Tapi gue senang dengan ketidakpastian itu. Karena, dengan tak ada apapun yang pasti, semua akan menjadi kejutan. Dan gue selalu berharap, kejutan yang akan gue dapat adalah kejutan yang menyenangkan.
Sang wanita bertanya, "Kalau aku jadi bunga, kau akan jadi apa?"
"Matahari," jawab sang pria.
Sang wanita heran. Kenapa pria tak ingin menjadi kupu-kupu atau kumbang, yang bisa senantiasa menemaninya hingga akhir waktu?
Ia bertanya lagi, "Kalau aku jadi bulan, kau akan jadi apa?"
"Matahari," jawab pria lagi.
Kedua kalinya sang wanita heran. Kenapa pria ingin menjadi matahari, padahal ia tahu bulan dan matahari tak pernah bertemu?
Sekali lagi, wanita bertanya, "Kalau aku jadi phoenix, kau akan jadi apa?"
"Matahari," pria itu menjawab untuk ketiga kalinya.
Wanita itu kesal. Ia sudah tiga kali berubah, yang terakhir menjadi phoenix yang bisa terbang tinggi melewati matahari, tapi pria tetap saja ingin menjadi matahari. Tanpa berusaha menanyakan alasannya, wanita itu melangkah pergi. Sang pria memandangi kepergiannya dengan sedih.
*
Sebenarnya, kalau saja wanita tinggal lebih lama untuk mendengarkan penjelasannya, mungkin ia akan berubah pikiran.
Alasan kenapa pria memilih menjadi matahari ketika wanita menjadi bunga, karena matahari memberi kehidupan kepada bunga. Tidak sekadar menemani. Membiarkan kecantikan bunga itu tetap abadi tanpa mengharap apapun sebagai bayaran. Pemberian tanpa pamrih, itu alasan pertama.
Alasan kenapa pria juga memilih menjadi matahari ketika wanita menjadi bulan, adalah agar bulan bisa tetap bersinar. Karena sinar bulan merupakan pantulan dari sinar matahari, dan matahari tetap setia memberikan sinarnya meskipun malam tiba, agar manusia bisa mengagumi keindahan bulan, walaupun dirinya terlupakan. Kesetiaan, adalah alasan kedua.
Alasan kenapa pria lagi-lagi memilih menjadi matahari ketika wanita menjadi phoenix yang bisa terbang jauh hingga di atas matahari, adalah agar sang wanita bisa pergi kapan saja, tanpa dirinya untuk menghalang-halangi. Sang phoenix bisa terbang kemana saja, sementara matahari menunggunya dengan cinta yang membara di dalamnya. Ia menjadi matahari yang diam, karena bila sang phoenix ingin kembali, ia akan ada di sana, tak kemana-mana. Lapang dada, itu alasan yang terakhir.
Tapi apa daya, sekarang sang bunga, sang bulan, dan sang phoenix telah pergi. Tinggal ada pria, sendirian bersama matahari di atas sana, dengan cinta yang membara di dalam hati.
==========
Sebenernya ini bukan cerita yang gue buat. Gue denger cerita ini pagi tadi di radio yang gue lupa apa namanya.
Dari cerita ini, kita bisa lihat bahwa niat baik tak selamanya menuai hasil baik. Terlihat dari tindakan sang wanita yang langsung pergi sebelum sang pria sempat menjelaskan maksudnya. Dan, well... gue ngerasa cerita ini sangat besar maknanya. Bagaimana sang wanita dengan kesal pergi ketika sang pria tak menjawab sesuai dengan keinginannya.
Karena cinta begitu rumit, begitu kompleks. Seperti kata Einstein, semua sangat relatif. Tak ada sesuatu pun di dunia ini yang pasti. Seperti bagaimana semua orang di hidup kita datang dan pergi begitu saja. Dan pada akhirnya, hanya akan ada kita dan ketidakpastian itu sendiri.
Tapi gue senang dengan ketidakpastian itu. Karena, dengan tak ada apapun yang pasti, semua akan menjadi kejutan. Dan gue selalu berharap, kejutan yang akan gue dapat adalah kejutan yang menyenangkan.
Friday, April 02, 2010
Kotak Kecil Bernama 'Imajinasi'
Banyak orang bilang, buku adalah jendela dunia. Bagi gue, buku adalah dunia itu sendiri.
Selama hidup gue yang bentar lagi udah enam belas tahun ini, mungkin udah ribuan buku yang pernah gue baca. Mulai dari novel, buku pelajaran, buku dongeng, sampe buku resep masakan. Dan menurut gue, semua buku punya nyawanya sendiri-sendiri. Semua buku bisa ngebawa pembacanya masuk ke dunia di dalam buku itu. Karena semua buku pasti ditulis untuk sebuah tujuan. Tujuan yang berbeda-beda.
Gue sendiri adalah penggemar novel, dan tipe novel kesukaan gue ada dua. Yang satu adalah novel kehidupan yang ringan, ga banyak mikirnya. Kedua, adalah novel-novel fantasi yang bisa ngajak gue berkelana di dunia yang ditata sedemikian rupa oleh penulisnya.
Tapi dari kedua tipe novel itu, harus ada satu unsur penting di dalamnya. Sesuatu yang bisa ngebuat emosi gue turun naik, rapid frequency dari fluktuasi senang, sedih, haru, marah, atau dengan kata lain dapat membuat gue menghayati semua kata dalam setiap kalimat di novel itu. Meresapi emosinya, memahami perasaan karakter-karakternya, dan menerka-nerka apa yang akan terjadi selanjutnya.
Sejauh ini, gue punya beberapa buku favorit. Nama-nama seperti To Kill A Mockingbird, Perahu Kertas, Anne Of Green Gables dan serialnya, Harry Potter, Charlie, Peter Pan, Brothers Grimm's Fairytale, dan lain-lain telah berperan dalam mengisi hidup gue selama ini. Setiap buku itu punya dunia yang berbeda, dimensi yang berbeda antara satu dan lainnya. Dimensi-dimensi yang seakan ga pernah ngebuat gue lelah untuk bolak-balik di antaranya.
Atau kalo ada saat-saat gue lagi pengen mikir, gue kadang beralih ke novel misteri atau genre berat lainnya. Kadang gue lari ke novel-novel Agatha Christie, Sir Conan Doyle, Enyd Blyton, Alfred Hitchcock, dan lain-lain.
Ya, sebuah buku bisa membawa gue keluar sejenak dari dunia bernama realitas menuju dunia yang sama sekali baru. Dunia yang penuh dengan emosi, ketegangan, sekaligus kesenangan dan romansa. Segala hal yang bisa menggugah satu kotak kecil di sudut otak gue yang bertuliskan 'imajinasi'.
*
Tapi sayangnya, gue hampir selalu dihadapkan dengan sebuah fakta menyakitkan.
Sebuah fakta yang selalu menghantui setiap kali gue ngebaca buku apapun. Itu adalah fakta bahwa nantinya, cepat atau lambat, cerita itu akan menemui sebuah akhir. Entah akhir menyenangkan, menyedihkan, atau akhir yang menggantung sama sekali. Entah kenapa, semua akhir terdengar menyedihkan buat gue.
Kadang gue bertanya, kenapa semua harus berakhir? Kenapa tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang abadi? Sebuah pertanyaan bodoh, memang. Pertanyaan bodoh yang di dalamnya terdapat sejuta harapan dan mimpi. Setidaknya menurut gue.
Gue pernah denger, mengakhiri cerita adalah bagian terberat bagi penulis dalam mengerjakan tulisannya. Mungkin saja ada jutaan kenangan selama si penulis menulis cerita itu. Meskipun begitu, orang-orang juga bilang bahwa buku yang bagus adalah buku yang endingnya bagus. I don't blame it, it's only that... ah, I don't know.
Nulis post ini ngebuat gue jadi sentimental. Udahan ah.
Selama hidup gue yang bentar lagi udah enam belas tahun ini, mungkin udah ribuan buku yang pernah gue baca. Mulai dari novel, buku pelajaran, buku dongeng, sampe buku resep masakan. Dan menurut gue, semua buku punya nyawanya sendiri-sendiri. Semua buku bisa ngebawa pembacanya masuk ke dunia di dalam buku itu. Karena semua buku pasti ditulis untuk sebuah tujuan. Tujuan yang berbeda-beda.
Gue sendiri adalah penggemar novel, dan tipe novel kesukaan gue ada dua. Yang satu adalah novel kehidupan yang ringan, ga banyak mikirnya. Kedua, adalah novel-novel fantasi yang bisa ngajak gue berkelana di dunia yang ditata sedemikian rupa oleh penulisnya.
Tapi dari kedua tipe novel itu, harus ada satu unsur penting di dalamnya. Sesuatu yang bisa ngebuat emosi gue turun naik, rapid frequency dari fluktuasi senang, sedih, haru, marah, atau dengan kata lain dapat membuat gue menghayati semua kata dalam setiap kalimat di novel itu. Meresapi emosinya, memahami perasaan karakter-karakternya, dan menerka-nerka apa yang akan terjadi selanjutnya.
Sejauh ini, gue punya beberapa buku favorit. Nama-nama seperti To Kill A Mockingbird, Perahu Kertas, Anne Of Green Gables dan serialnya, Harry Potter, Charlie, Peter Pan, Brothers Grimm's Fairytale, dan lain-lain telah berperan dalam mengisi hidup gue selama ini. Setiap buku itu punya dunia yang berbeda, dimensi yang berbeda antara satu dan lainnya. Dimensi-dimensi yang seakan ga pernah ngebuat gue lelah untuk bolak-balik di antaranya.
Atau kalo ada saat-saat gue lagi pengen mikir, gue kadang beralih ke novel misteri atau genre berat lainnya. Kadang gue lari ke novel-novel Agatha Christie, Sir Conan Doyle, Enyd Blyton, Alfred Hitchcock, dan lain-lain.
Ya, sebuah buku bisa membawa gue keluar sejenak dari dunia bernama realitas menuju dunia yang sama sekali baru. Dunia yang penuh dengan emosi, ketegangan, sekaligus kesenangan dan romansa. Segala hal yang bisa menggugah satu kotak kecil di sudut otak gue yang bertuliskan 'imajinasi'.
*
Tapi sayangnya, gue hampir selalu dihadapkan dengan sebuah fakta menyakitkan.
Sebuah fakta yang selalu menghantui setiap kali gue ngebaca buku apapun. Itu adalah fakta bahwa nantinya, cepat atau lambat, cerita itu akan menemui sebuah akhir. Entah akhir menyenangkan, menyedihkan, atau akhir yang menggantung sama sekali. Entah kenapa, semua akhir terdengar menyedihkan buat gue.
Kadang gue bertanya, kenapa semua harus berakhir? Kenapa tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang abadi? Sebuah pertanyaan bodoh, memang. Pertanyaan bodoh yang di dalamnya terdapat sejuta harapan dan mimpi. Setidaknya menurut gue.
Gue pernah denger, mengakhiri cerita adalah bagian terberat bagi penulis dalam mengerjakan tulisannya. Mungkin saja ada jutaan kenangan selama si penulis menulis cerita itu. Meskipun begitu, orang-orang juga bilang bahwa buku yang bagus adalah buku yang endingnya bagus. I don't blame it, it's only that... ah, I don't know.
Nulis post ini ngebuat gue jadi sentimental. Udahan ah.
Subscribe to:
Posts (Atom)