Showing posts with label pengalaman. Show all posts
Showing posts with label pengalaman. Show all posts

Tuesday, April 28, 2009

Are You Smarter Than 5th Grader

Mau liat anak hiphop bling-bling?
Nih dia:

watsap, men? (cret)

foto di atas nggak ada hubungannya ama postingan kali ini sih. Tapi gue pengen aja. Iseng.

*

Masa hiatus gue berlangsung selama empat hari yang dikarenakan internet gue down lagi. Buset dah.

Anyway, tau acara di TV yang judulnya ‘Are You Smarter Than 5th Grader’ nggak?

Itu acara gokil.

Gokil banget.

Yang gokil bukan pesertanya. Gue sih nggak peduli Vincent dapet lima juta, Fitri Tropica dapet nggak tau berapa. Tapi gue salut sama anak-anak yang bertugas ngebantunya.

Namira, Bima, Belinda, Barrie, sama Quinsha. Jenius. Parah banget. Gila aja, ada yang udah dapet beasiswa empat kali, ada yang udah juara ini, juara itu, dan lain-lain. Itu anak-anak bener masih kelas lima? Otaknya encer banget dah.

Dan yang gue bingung, kenyataan bahwa pertanyaan-pertanyaan SD itu membingungkan emang bener. Bahkan gue aja yang baru tiga tahun lalu lulus SD suka lupa pertanyaan-pertanyaannya.

Betewe, gue seneng ada acara yang ngebuat anak kecil terlihat lebih pinter dari orang dewasa. Karena kebanyakan orang dewasa memandang anak kecil itu sebelah mata, sih. Agak kesian juga, kalo mau ngeliat anak kecil matanya harus ditutupin sebelah. Takut kelilipan kali, ya.

Udah gitu gue seneng ngeliat Namira ama Quinsha. Nih anak berdua kalo udah gede jangan kemana-mana ya. Yakin seratus persen gue kalo mereka gedenya pasti cakep-cakep. Haha.

*

Sedikit update tentang gue sekarang:
- Lagu : Vierra - Bersamamu
Ini lagu keren. Cuma gue bingung kenapa yang jadi hit malah Dengarkan Curhatku. Kayaknya industri musik masih kukuh dengan pasarannya, ya.

- Acara TV : Are You Smarter Than 5th Grader

- Film : Film-filmnya Adam Sandler.
Ngocol. Dashyat. Lagunya juga enak-enak.

- Komik : Samurai X
Nostalgia nih. Back to Kenshin, Kaoru, Yahiko, sama Sanosuke.

Huff.
Gue kangen pacaran.

Saturday, April 18, 2009

Texas Cockroaches Massacre

Gue nggak takut ama kecoa, cuma geli.

Ada cerita yang nambah perasaan geli gue :
Gue pernah lagi nginep di hotel, dan kebangun tengah malem. Gue nggak sempet ngeliat jam, tapi perkiraan gue sih jam satu. Dan kebiasaan bangun tengah malem itu pasti diikuti ama kebiasaan susah tidur. Jadi gue hanya bisa tiduran, diem aja, sambil sekali-sekali merem, nyoba buat tidur.

Buka mata, tutup, buka, tutup, buka lagi dan gue ngeliat sesuatu yang agak sedikit sekadar mengagetkan : kecoa!

Serangga coklat kecil ber-antena dan berkaki enam serta bersayap itu berjalan dengan santai di kasur gue. Dia muter-muter sebentar. Antenanya bekerja ke kiri dan ke kanan, mungkin dia tertarik ama kaki gue yang wangi tapi tertutup selimut itu. Tiba-tiba dia naik ke selimut gue di bagian kaki, makin lama menuju ke atas, menuju kepala gue.

Gue pertama ngira kecoa itu bakal ngomong ke gue, 'Mas, saya mau ke toilet. Lewat mana ya?'.

Tapi setelah beberapa kali memutar otak sepertinya kemungkinan itu adalah satu banding seribu. Selain gue nggak ngerti bahasa kecoa, dan gue bisa ngeliat bahwa dia nggak lagi nyari toilet dari sorot matanya. Emang keliatan, ya?

Akhirnya gue melakukan hal yang terlintas di pikiran gue : Melakukan gerakan-gerakan ekstrim agar kecoa tersebut terbang dan pergi. Usaha gue berhasil, dia terbang. Tapi nggak pergi. Malah terbang ke arah gue.

Gue teriak.

Dengan volume sekecil-kecilnya agar keluarga gue nggak ada yang bangun dan menampar-nampar udara, berusaha membuat kecoa itu pergi. Dan gue berhasil lagi. Kecoa itu pergi, entah karena takut ama tamparan gue atau takut sama bau mulut gue.

Untungnya setelah itu kecoa tadi nggak balik-balik lagi. Dan gue, untungnya juga, bisa langsung tidur setelah itu.

* * *

Tapi sekarang, pandangan gue agak berubah dengan kecoa.

Gue baru pulang atletik. Melewati jalan Danau Towuti bersama Dimas dan Hakim. Gue masih di ujung jalan, ketika gue melihat pemandangan yang menyedihkan.

Asap, asap di mana-mana. Fogging, gue kenal baunya dan bunyi alat yang seperti gergaji mesin itu mengingatkan gue sama film Texas Chainsaw Massacre. Di film itu, sekelompok anak-anak remaja di hantui sama orang gila yang membawa chainsaw. Tapi di sini, korbannya adalah kecoa.

Kecoa-kecoa itu puluhan, bahkan ratusan. Ada yang mati, sekarat, masih hidup, dan mencari-cari keluarga mereka. Kecoa itu diinjak, diracun, diusir dari rumah mereka.

Salah satu kecoa itu ada yang berjalan kearah gue. Seekor serangga yang sedang sekarat.

'Tuan, apakah anda lihat keluarga saya?' tanya kecoa itu.

'Sayang sekali nggak. Emang gimana ciri-cirinya?' gue bales bertanya.

Kecoa itu berpikir sesaat, 'Istriku berwarna coklat, dan anakku punya antena yang ukuran sebelah kanan lebih pendek dari yang kiri. Apa itu bisa membantu?'

Gue dan Dimas berpandang-pandangan. Setidaknya ada seratus lima puluh kecoa berwarna coklat di sini. Dan kita akan disangka orang gila kalo ngukur antenanya satu-satu.

'Bagaimana?' tanya kecoa sekarat itu penuh harap.

'Errr...' Dimas hendak menjawab, tapi sebelum kata-katanya keluar, kecoa itu seperti tak bisa nafas, berputar putar tiga kali, dan jatuh. Dia mati.

Sekali lagi, gue dan Dimas liat-liatan.
Dimas berkata dengan penuh penyesalan,
'Dia jadi singit.'

Perasaan gue campur aduk. Selain sedih karena tidak bisa menolong kecoa malang itu, gue juga heran kenapa gue jadi bisa bahasa kecoa. Apa kecoa itu yang bisa bahasa orang?

Kecoa juga punya hak untuk hidup. Pembantaian ini melanggar Hak Asasi Kecoa, yang dibuat oleh presiden bangsa Kecoa pada saat dunia masih penuh penjajahan. Bangsa kecoa itupun saat itu sudah merdeka. Bebas dari gangguan. Tapi saat ini manusia hanya bisa merusak tempat hidup mereka.

Gue sempet berpikir untuk mendirikan Front Bela Hak Hidup dan Hak Asasi Kecoa (FBH3AK).

Dan akhirnya gue, Dimas, dan Hakim memberanikan diri melewati tempat penjagalan itu, tanpa melihat kesamping. Kita bertekad untuk tidak memerdulikan kecoa yang lain. Kecoa-kecoa yang membutuhkan pertolongan seperti kecoa yang tadi. Tapi kita tau bahwa nggak ada yang bisa kita lakukan untuk menolong mereka.

Gue udah sampai ke ujung jalan, dan menengok ke belakang. Gue berkata :
'Good bye, Texas Cockroaches Massacre.'

Friday, April 17, 2009

Emang Dasar Penyakit

Sepertinya entah sejak kapan, atau mungkin dari kecil, gue menderita darah rendah.
Darah rendah.
Apa sih darah rendah?
Ya artinya gue kekurangan darah.

Misalnya gue pengen ngambil barang yang jatuh, gue harus ngambil nafas dan nunduk pelan-pelan. Karena kalo gue nunduk suddenly, maka gue akan pusing suddenly juga.

Gue juga paling nggak bisa bangun mendadak dari posisi tidur. Dan bila itu terjadi, wuuusshh, isi kepala gue jadi putih. Literally, putih. Karena gue nggak bisa ngeliat apa-apa. Yang bisa gue lakuin kalo hal itu dateng adalah nyari tempat pegangan secepatnya atau tempat duduk super cepat. Kalo nggak, maka 'look out below!' dan gue pun tumbang.

Untungnya sampe sekarang gue belom pernah sampe pingsan. Tapi jatoh, pernah.

Ceritanya gue lagi tiduran. Nggak ngapa-ngapain, tiduran aja. Sambil menghayal, mungkin iya. Di rumah lagi nggak ada orang. Tiba-tiba gue kebangun, pengen ngelakuin sesuatu dan jalan secara blitzkriegnya pasukan Jerman ke ruang tamu. Tetapi, sampe di ruang tamu, penyakit short-term memory lost gue kambuh dan gue lupa mau ngapain. Dan sialnya juga, gue saat itu berdiri jauh dari mana-mana. Sama sekali nggak ada tempat buat duduk, ato pegangan. Dan pikiran gue kalah cepet sama cahaya putih yang mulai merambat memenuhi pandangan gue, sampe semua pandangan gue tertutup.

Gue cuma sempet bilang dalem hati : Sialan!
Dan gue pun jatuh.
Sekali lagi gue bilang : Sialan!
Badan gue sakit semua. Dan bayangan putih di kepala gue menghilang jaaaauuuuuhhh lebih lambat daripada datangnya. Maka posisi gue saat itu sungguh nggak enak buat di liat. Tiduran, di ubin, dengan pandangan nggak fokus, kayak orang overdose. Cuma tanpa busa keluar dari mulut.

Perlahan tapi pasti, bayangan itu menghilang. Dan gue pun kembali utuh, kecuali rasa sakit yang masih ada di sekitar bagian tubuh yang nopang jatohnya gue.

Pesan moral yang gue dapet : untuk orang yang punya darah rendah dan short-term kambuhan kayak gue, di sarankan untuk hidup dalam slow motion and no sudden movement. Jangan lupa bikin to-do list biar nggak lupa. Jangan lupa cuci kaki dan tangan sebelum tidur.

I'm Lost Without You

Berapa kali harus aku bilang?
Aku benci kamu.

Aku benci kamu yang selalu ada di pikiranku. Dan sepertinya akan terus begitu hingga Jakarta yang panas ini menjadi dingin, dan membeku. Ah, dunia ini sempit. Winamp sedang memutar lagu I'm Lost Without You dari Blink-182 saat aku menulis ini. Mendengar lagu itu membuat nafasku sesak.

* * *

Flashback. Damn, I always hate when I have it. Tapi pikiranku sudah sampai ke saat itu, tanpa bisa kuhalangi. Saat di mana kamu menyentuhkan tangan kecilmu ke tanganku. Dan mereka pun saling menggenggam. Genggaman yang, aku pikir, tidak akan goyah walau apapun yang menerpa. Tapi aku salah.

Kini aku hanya bisa duduk di depan komputer. Menulis puisi dan cerita yang sebenarnya merupakan representasi perasaanku kepadamu. Tapi kamu mungkin tidak bisa melihatnya. Ya. Kamu selalu tak pernah menyadari. Dan pada akhirnya pun aku selalu ditinggal sendiri. Merasa kesal. Rindu. Aku nggak tahu.

Aku meminum kopiku.

Pertama, dan kedua kalinya. Dan tidak akan ada lagi yang ketiga. Karena sepertinya pintu sudah tertutup. Bahkan hanya membaca namamu di online list msn-ku saja membuatku resah.

Dua hari lagi. Dua hari terdengar sebentar. Tapi tidak untuk aku dan kamu. Aku saja masih ingat puisi yang kamu tulis untukku. Dan seingatku itu baru beberapa hari yang lalu. Atau enam bulan? Aku masih ingat perasaanku membaca puisi itu. Senang. Sedih. Melankolis. Sial.

Aku melihat winamp-ku. Aneh, mayoritas song list di isi oleh Blink-182. I'm Lost Without You, I Miss You, Story of a Lonely Guy, dan Online Song. Lihat, komputerku aja tahu bagaimana perasaanku.

Tapi aku bukan orang lemah. Aku memandang ke depan. Karena untuk itulah Tuhan meletakkan mata kita di depan kepala.

Aku meminum kopiku lagi.

Karena aku tidak sendirian.

Tuesday, April 14, 2009

Lampu Lalu Lintas Ultraman

Setahu gue, lampu lalu lintas harusnya merah kuning ijo, ya. Tapi di perempatan deket rumah gue, lampu tersebut berubah menjadi kuning kedip-kedip, kayak ultraman kalo mau kalah.
Akibatnya? Mobil dan motor semrawut. Gue ngerasa kayak lagi ada di dunia War Of The Worlds. Hahaha.

Klakson mobil pada sahut-sahutan. Kalah dah orkestranya Adi MS. Tapi di sela-sela ributnya klakson itu, suara gue nggak mau kalah. Kepala gue sampe keluar dari jendela sejauh lima sentimeter. Agak lupa gue neriakin apaan, tapi kalo nggak salah masih setipe kayak gini :

Mampus! Mampus! Ribet lo! Sibuk! Hahaha! Mampus!

Percaya atau nggak, gue teriak begitu kayak orang sinting. Dengan mata liar dan lidah menjulur-julur. Udah persis kayak Yatsume di komik Samurai X edisi 23. Untung aja tangan gue panjangnya sama.
Abis itu gue masuk, berdehem, kembali menjadi manusia biasa. Gue bilang ke bokap gue, 'Udah, jalan yuk.'

Sekali lagi, gue bingung. Mau jadi apa Jakarta kalo begini. Udah tau jalanan macet, eh lampu merah yang udah bener-bener, walaupun masih aja macet, dibuat jadi lampu ultramen. Buset dah.
Anyway, akhirnya gue sampe ke sekolah dengan keadaan sehat walafiat. Dengan gaya nyetir bokap gue yang kayak nggak tahu apaan. Gue curiga dulu dia masih sodara ama Michael Schumacher. Kalo gitu, gue juga dong?

Saturday, April 11, 2009

Jejaring Sosial di Internet

Jujur, gue bosen sama friendster.
Jujur juga, gue males pake facebook.
Jujur lagi, myspace gue sepi.

Jadi untuk apa gue capek-capek bikin account di sana kalo nggak di pake? Sesuatu yang bernama 'hasutan teman' berperan besar di sini. Gue sebenernya hanya iseng buat akun. Lagipula gue hampir setiap hari duduk di depan PC, kalo lagi nggak ngeblog dan ngecek e-mail, baru gue buka. Mungkin kalo nggak ada internet gue akan lari ke hutan untuk berpetualang bersama monyet kecil dan menamakan diri gue Ace Ventura.

Anyway, akhirnya gue buka facebook hampir seminggu sekali. Itu juga udah paling sering. Akibatnya: setiap sampai home, puluhan friend request sudah bertengger di kanan atas minta diklik. Padahal mereka belum tentu kenal sama gue. Dan abis nge-request juga sama sekali nggak ada niatan untuk kenalan. Belum lagi apps, groups, dan causes invitation which makes me tired. I mean, do I look like somebody who wants and have the anthusiasm for using that silly app?

Friendster gue udah terbengkalai semenjak satu bulan yang lalu. Dan myspace, lebih lama lagi. Dan setelah membaca artikel ini, dan mendengar kasus tentang beberapa teman kakak gue kena skorsing karena facebook membuat facebook gue sepertinya sebentar lagi akan bernasib sama seperti friendster dan myspace.

Tapi semua ini hanyalah curhatan seorang anak yang merasa masih banyak hal penting dari pada ber-jejaring sosial ria. Mending blogging, ikut lomba, menang nggak menang urusan belakangan. Hidup blogger!

Waktu Itu

Waktu itu jam pulang sekolah.
Waktu itu saat pendalaman materi.
Waktu itu kita belajar.
Waktu itu materi matematika.
Dan waktu itu.

Waktu itu...
Orang itu dengan segala kesombongan yang mungkin pernah dimiliki seorang manusia mengatakan bahwa kita, gue, ga bisa. Dan gue hanya bisa tertawa kecil. Emangnya lo bisa?

Come on, try me! Atau lo takut ketahuan bahwa actually, there are some of us who are better than you. Tapi apa mau dikata. Yang sudah ya sudahlah. Toh gue juga nggak rugi apa-apa. Lagian mungkin nanti gue akan dibilang sombong atau apalah. Mendingan gue mulai nulis puisi lagi daripada mendengarkan ocehan yang sama sekali tidak berpendidikan. Atau mungkin gue akan meneruskan membuat apa yang kata mereka biografi masa depan. Ya. Itu lebih baik.

Sudah saatnya pelajar bangkit, pak! Sekarang bukan zaman feodal yang hanya bisa disuruh-suruh dan dimaki!

Thursday, April 09, 2009

My Music Journey

Gue punya band.

*krik krik*

Oke, sekali lagi. Gue beneran punya band.

Gue, anak sok tau yang punya banyak cita-cita ini, pertama kali belajar musik sama bokap gue. Alat musik pertama gue -kalo sendok dan ember ga masuk hitungan- adalah gitar akustik yamaha, yang masih dalam kategori kebesaran untuk gue yang masih kelas enam SD. Untungnya, gue bukan anak yang banyak ngomong pas latihan. Seperti latihan gue yang ke sekian kali :

bokap : ayo sekarang kita mainin lagu burung kakatua.
gue : ...
bokap : kenapa? ayo main dari kord A!
gue : ...
bokap : kamu kenapa?
gue : ...

Alasan kenapa gue diem begitu, mungkin hanya Tuhan yang tahu. Karena gue sendiri nggak tahu. Anyway, I learn to play guitar in no time. Setelah beberapa kali latihan gue udah bisa mainin beberapa lagu dengan lancar. Lagu-lagu pertama gue antara lain :

- Burung Kakatua
- Pelangi Di Matamu (Jamrud)
- Manis dan Sayang (Koes Plus)

Sejak saat itu, gue mulai berpikir untuk jadi musisi terkenal. Karena kakak gue, Tommy, juga telah duluan belajar gitar, dan punya temen-temen yang bisa main musik, gue di ajak ngeband. Maklum, temen-temen gue ga ada yang bisa main musik. Paling banter juga main galasin.

Alhasil, jadilah gue ngeband pertama kalinya dengan personil sebagai berikut :
Gue (gitar), Daya (gitar), Munawar (vokal), Tommy (bass), Rifqy (drum).
Band itu diberi nama Neptunesz. Ya, Neptunesz. Look, I'm not the one who give the name!

Tapi, walaupun dengan nama yang sengaja di eja salah itu, gue tetep seneng, karena 1.) gue bisa main gitar, 2.) gue punya band, dan 3.) gue udah nggak main galasin lagi.

Ketawa boleh, ga ketawa boleh.
Percaya boleh, ga boleh percaya.
Karena itu emang ga bener. Gue masih main galasin sampai gue lulus SD. Sumpah!

Tapi sayangnya, abis gue lulus dan masuk SMP, Daya pindah sekolah. Berkurang satu personil, band masih jalan. Posisi Daya di ganti sama Munawar, yang main gitar sekaligus vokal. Tetapi setelah beberapa kali latihan bareng, dan gue beberapa kali gantiin Munawar nyanyi, akhirnya hakim menetapkan bahwa gue yang jadi vokalis. Umm... horay?

Band berganti nama setelah itu. Diputuskan bahwa nama yang akan digunakan adalah Seventh Day. Mungkin beberapa orang akan susah dalam menyebut nama ini.
Maklum, orang Melayu.
Sekali lagi maklum, apalagi kalo itu masteng.

Panggung pertama yang kita injak dan tidak merasa kesakitan terletak di Gang Mes, Kebon Pala. Gue lupa itu acara apa. Tapi yang jelas, itu panggung pertama gue, dan gue dengan sukses menyanyikan dua lagu. Numb dari Linkin Park dan All The Small Things oleh Blink-182. Lagu kedua itu adalah lagu pengantar gue untuk menjadi die-hard fan dari Blink.

Setelah itu ada beberapa panggung lagi yang kita ikutin. Di Semanggi Expo, di SMP 5, lalu di sekolah kami sendiri. Band ini sempat berganti personil ketika Munawar keluar dari band dan digantikan oleh Adhi. Tapi setelah beberapa saat (Adhi bahkan belum sempat manggung bareng kita), formasi band kembali seperti semula.

Sekadar informasi, band ini beraliran punk melodic, tapi masih ada unsur popnya. Sampe sekarang band gue udah nyiptain beberapa lagu seperti Sejak Pertama, Penipu, Berdiri dan Terjatuh Kembali, dan masih banyak lagi. Semua lagu diciptakan oleh Tommy, meskipun ada satu, Waiting, yang berasal dari hasil jerih payah gue yang menumpahkan darah dan keringat.
Sekali lagi, ga boleh percaya.
Tapi sekali lagi juga, Waiting beneran karya gue.

- - - -

Yap, itu sekilas tentang band gue. Yang jelas, meskipun vokalisnya gue, frontman band adalah Tommy. Kalo ada yang mau kita main, hubungin aja lewat blog ini ya.

Dan itulah kisah dari gue.
Anak yang punya band.
Seorang vokalis.
Dan seorang gitaris.
Bukan lagi seorang anak yang hobi main galasin.

The Letter for You

Dear love,

I'm glad that our relationship had grown down. And like every fairy tales I've met, I guess that our story will get the unhappy ending. No more of your suspense-thrilling-spiritful lies. And those reality shows that your face will keep floating in my head.
Silence, constantly written. Maybe that way I could forbid your soul from entering my mind. So much of your Miss know-it-all thing. And in my opinion, the end is coming silently and desperately.
Let my soul be taken by the horror movies' player. So then two years later I will reincarnate into a bee and swat you until you die.

Yeah, but no.

I couldn't do it. The look in your eyes prevented me. Well, six months spent can make people love to death.


From your fellow.

Tuesday, April 07, 2009

CD dan Karang Gigi

...kamera siap?...
...siap!...
...make up, make up!...
...all set!...
...we're live in five, four, three, two...

...


Ehem.

Gue berdiri tegak di depan pintu. Saat itu gue bagaikan seorang jenderal yang siap berperang sampai titik darah penghabisan. Tapi alih-alih memegang senapan, gue malah memegang secarik kertas yang bertuliskan :

1. Aqua galon
2. Kopi ABC susu 6
3. Soffel lotion (sedapetnya)
4. Biskuat coklat

Yap. Gue, seorang jenderal yang disuruh ke warung ama nyokap. Yah, berhubung gue sekalian mau beli CD, dan bokap gue mau ketemu ketua RT Penjernihan, jadilah kami berangkat, gue diboncengin motor ama bokap.

Pemberhentian pertama adalah warung. Seperti biasa, bokap parkir, dan gue yang melakukan negosiasi dengan sang pemilik warung untuk mencapai kesepakatan yang diinginkan. Jadilah gue kembali ke motor sambil membawa hasil belanjaan gue.

Kedua, gue sama bokap gue ke tempat fotokopi yang ada di depan sekolah. Di sana gue beli CD kosong yang harganya empat ribu rupiah. Misi kedua selesai, lalu kami jalan lagi ke tempat pak RT.

This is the strangest part, especially for me. Rumah pak RT berada di sebuah gang sempit yang gue yakin dua orang pemain Smackdown tidak bisa lewat secara bersamaan tanpa memicu perseteruan. Gue disuruh tunggu di motor dan bokap gue nerusin jalan kaki sejauh lima atau enam meter menuju sebuah rumah. Bokap gue lalu masuk ke rumah itu dan tinggallah gue, cowok sendirian ditemenin motor ama galon aqua jam setengah delapan malem di gang sempit.

Buruknya nasib gue, ya?

Beberapa waktu berlalu, bokap gue belom keluar juga. Gue mulai iseng mukul-mukul galon untuk menghibur diri sendiri sampe tiba-tiba ada tiga cewek yang gue gak terlalu jelas umuran berapa datengin gue.

'Permisi mas,' kata salah satunya. 'kita dari rumah sakit AL mau meriksa keadaan gigi di lingkungan sini. Boleh nggak kalo kita periksa mas?'

'Yaudah boleh,' kata gue tanpa mikir-mikir dulu.

Tapi karena langit gelap dan mereka pada ga bawa senter jadilah gue digiring ke tempat yang terangan dikit. Dan gue disuruh buka mulut, diperhatiin sebentar, dan inilah vonisnya:

'Mas banyak karang giginya nih.'

Whaaaat?? Perasaan gue rajin gosok gigi dan lain-lain.

Yang satu nanya lagi, 'mas mau nggak jadi pasien kita?'

'Wah, gatau deh,' kata gue, sekarang sambil berpikir. Gila aja, gue yang innocent ini harus dibawa ke dokter gigi cuma karena ada karangnya. Dan juga karena gue agak ga percaya gitu.

'Kalo bisa sih pagi, mas. Eh, mas masih sekolah?'

Gue mengangguk.

'Sekolah di mana?'

'Empat puluh' kata gue dengan pe-denya.

Mereka kaget. 'Hah, masih SMP?'

Lagi, Gue mengangguk. Sepertinya kenyataan bahwa gue masih SMP membuat mereka bingung bagaimana selanjutnya. Lalu akhirnya:

'Mas, ada nomor yang bisa di hubungi? Kita minta nomor mas aja deh,'

Lalu gue ngasih nomer telepon rumah gue. Secara gue baru keilangan hape beberapa bulan yang lalu dan sampai sekarang masih dalam vakansi. Terus mereka nanya nama gue. Gue kasih, trus bokap gue dateng.

Hal yang terjadi berikutnya adalah mereka menyapa bokap gue 'Slamat malem pak,' dan pergi ke rumah di deket situ terus mengetuk pintunya. Gue sendiri langsung naik motor dan pergi dari sana.

Setelah itu gue pergi ke warung lagi (Diori) untuk membeli aqua galon. And after the tiring (and maybe weird) night, gue pulang.

Tapi pertanyaan masih tersisa di kepala gue.
Pertanyaan yang akan membuat gue penasaran seumur hidup.
Pertanyaan yang ga bisa gue jawab sendiri.
Pertanyaan yang masih menghantui.
Yaitu pertanyaan tentang :

'Karang gigi itu apa, sih?'

Monday, December 29, 2008

Berduka Cita

sangat berduka cita atas kehilangan yang amat sangat kepada.... HP GUE!!
sialaaaaann !!! ada aja ya yang ngefans ama gue sampe ga malu ngambil hp gue.
my nokia 5300 is gone... huaaaaaaaa...
gatau lagi kapan mau di beliin yang baru, yang jelas sekarang gue sedang tak bisa di hubungi melalui nomor gue sampe batas waktu yang belum di tentukan!
yah tapi apa boleh buatlah.
"kita tak mungkin mendahului nasib - Arai, tetralogi Laskar Pelangi"

Monday, December 08, 2008

Panik Panik Panik Panik

kartu ujian gue ilang! tanpa itu gue gabisa ikut ujian besok! tidaaaaaaakkk!! gue ngobrak-ngabrik meja gue, tas gue, buku gue... sampai akhirnya...
gue ngebalik-balik halaman buku matematika 3b gue, dan nemuin kartu itu diam ga bergerak, nyelip di tengah-tengah buku. slameeettt...

Friday, December 05, 2008

Kisah Aneh di Museum Satria Mandala

Kejadian ini terjadi sesungguhnya, meskipun ini semua cerita temen-temen gue, karena gue ga melihat apa-apa, kecuali mungkin hawa dan perubahan suasananya.

Hari itu tanggal 29 November.
Gue bersama temen-temen gue udah niat pergi ke museum itu dari hari rabu. Jadilah kita pada jalan naek bis 46 dari MPR.
Berangkat jam sebelas, kita sampai jam dua belas kurang sedikit.
Dengan membayar tiket seharga Rp. 750 per orang, kami berdelapan yaitu gue, Fikri, Yara, Intan, Muthia, Sharvina, Erza, sama Farhan masuk ke museum.
Kita melihat diorama-diorama tentang perang-perang di Indonesia, lalu ada ruangan Jendral Sudirman, Letnan Oerip, juga Pak Harto. Semua kita lalui dengan biasa aja, memperhatikan, membaca, foto, lalu berjalan lagi.
Ruangan dilanjutkan dengan diorama lagi. Di sana juga terdapat patung-patung BKR, TNI, dan beberapa organisasi perjuangan Indonesia lainnya. Di ruangan ini sebenarnya juga sudah terjadi perubahan suasana, tapi sejauh ini belum terjadi apa-apa.
Kami turun ke ruang senjata. Di sini suasananya lebih menyenangkan (entah karena efek keramik putih di ubin atau sesuatu yang lain). Kami, seperti biasa, berfoto bersama, mencoba memegang beberapa senjata berat (yang sebenarnya dilarang).
Keluar dari ruang senjata, kami melalui jalan yang bercabang dua, satu mengarah ke hangar pesawat dan satu ke sebuah rumah, yang kalau tidak salah adalah rumah Bung Karno (atau istrinya, gue ga begitu ingat). Kami memutuskan untuk ke rumah tersebut dahulu. Melewati pintu kami di sambut oleh lukisan besar (entah siapa yang tergambar di situ gue ga terlalu memperhatikan). Perhatian gue beralih melihat plang bertuliskan 'Ruang Diorama III' dengan anak panah menunjuk ke atas tangga. Kami menaiki tangga tersebut, dan sampai pada ruangan gelap yang luas.
Di sinilah kisah anehnya di mulai. Fikri berhenti sebentar sebelum masuk, tapi ia ga mengatakan apa-apa. begitu pula Erza. Gue ga bertanya apa-apa kepada mereka, melainkan langsung menuju ke diorama yang pertama. Yang lain pun mengikuti gue. Setelah itu gue tahu, bahwa alasan Erza dan Fikri terdiam itu adalah karena melihat seseorang di ujung ruangan gelap itu. Sesaat mereka mengira itu manusia biasa, tapi perkiraan tersebut sirna ketika orang tersebut berjalan ke sisi lain ruangan, kemudian menghilang.
Kami keluar--Fikri agak tersandung saat menuruni tangga dan hampir jatuh menimpaku. Dia berkata dia merasa ada sesuatu yang memegang kakinya saat dia berjalan. Kami berjalan ke jalan yang satu lagi. Sebelum ke hangar ada sebuah gedung (gue lupa nama gedungnya). Kami memutuskan untuk masuk, karena melihat bahwa di dalamnya terdapat ruang diorama lagi.
Kami menyapa penjaga gedung itu dan berkeliling di lantai satu. Setelah cukup puas, kami naik ke lantai dua.
Bahkan saat baru menapakkan kaki di lantai dua, suasananya sudah sangat berbeda. Pengap. Sangat pengap. Seakan tidak ada udara ataupun ventilasi di lantai tersebut. Gue udah pernah ke sana sebelumnya, dan menganggap ini biasa saja. Tapi kenyataannya tidak seperti itu.
Seperti biasa, membaca petunjuk, melihat diorama, berfoto. Tetapi satu hal yang agak membuat gue merinding. Pada salah satu diorama, Fikri memotret diorama agak terlalu jauh, sehingga bayangan yang ada di kaca terpantul sebagian.
Dari sebagian itu terlihat dari dada kebawah ada gue dengan kaos biru muda dan bergambar di sebelah kiri, Fikri dengan kaos hitam kebiruan di sebelah kanan, dan seseorang, berjaket hitam dan berkaos putih polos, berdiri di tengah. Karena hanya dada kebawah, kami tak dapat melihat wajah orang tersebut. Perlu di tegaskan bahwa di antara kami berdelapan TIDAK ADA yang memakai kaos putih, apalagi jaket. Dan gue sangat yakin bahwa di lantai dua hanya ada kami berdelapan. Setelah melihat foto tersebut kami memutuskan untuk turun. Sebelum turun, Fikri mengakui bahwa ada tangan yang terjulur dari balik bahunya, mencoba menangkapnya. Untung Fikri menghindar, dan tangan itupun menghilang. Tapi ini di ceritakan setelah kami keluar dari gedung, karena Fikri juga tidak mengharapkan kami ribut keluar, karena 4 orang dari kami adalah perempuan, apalagi Muthia yang paling tidak berani dengan yang begituan.
Kami setelah itu pergi ke hangar. Untungnya hangar ini terdapat di lapangan terbuka, sehingga sinar matahari pun membuat kita nyaman. Kami masih berfoto-foto sebelum akhirnya memutuskan untuk pulang.
Cerita di atas adalah rangkaian cerita yang gue simpulkan dari cerita temen-temen gue. Dan mereka yakin bahwa cerita itu benar adanya. Tapi jangan sampai cerita ini mengurangi niat kita untuk belajar di museum Satria Mandala. Karena kalau kita datang dengan niat baik, insya Allah kita akan di hindarkan dari gangguan-gangguan seperti itu. Tetaplah percaya kepada Yang Maha Kuasa.