Showing posts with label yang diharapkan. Show all posts
Showing posts with label yang diharapkan. Show all posts

Monday, June 01, 2009

Sayang Bella Sayang

Urgh. Satu minggu ini gue udah cukup bersabar untuk tahan meninggalkan blog, facebook, email, plurk, twitter, dan semua kawan-kawan gue yang lain karena internet gue yang baik dan budiman ini mati.

Tapi sepertinya kesabaran itu membawa berkah.

Akhirnya, hari Senin, 25 Mei 2009 kemaren, 'yang diharapkan' secara resmi telah menjadi cewek gue.

♥ Bella Meilisa Audina ♥



Cewek lucu satu ini, kelas 7-6 di SMPN 40, officially is my new girlfriend. Senangnya! Hahaha.

Memang, pada akhirnya temen-temen gue pun banyak yang kaget dengan keputusan gue. Iya lah, dari pertama cuma segelintir (halah) orang yang tau kalo gue suka sama cewek ini. Tapi whateva they say. She's mine now.

Bella Bella Bella Bella Sayang Bella Sayang Sayang Sayang Bella Bella

Hem.

Oh, damn.

Tuesday, May 19, 2009

Gossip is not good, really!

Sebetulnya posting ini nggak cocok ada di blog ini, karena seharusnya ada di Gossip & Truth-nya Arnin. Hehe. Tapi, whateva lah.

Well, baru kali ini gue ngerasa bahwa gossip can kill. Baru kemaren gue denger dari seorang sumber katanya 'yang diharapkan' udah ditembak, dan udah jadian! Otomatis, I was like stunned by a lightning.

Jegeeeeer!

Gue terkejut, terkaget-kaget, terpukau, terkesima, dan tersedak.

Sedang hancur, begitulah keadaan gue saat itu. It's like, life was over for me. Agak lebay, gue tau. Hehe. Apalagi saat memberi keterangan ketika di interogasi (halah), ekspresi wajah si sumber begitu meyakinkan. Gue udah merana saat itu. Farhan yang saat itu ada di sebelah gue memandang ke arah gue dengan sedih.

'Sabar ya, Bob,' katanya.

Saat itu gue takut dia bakal nambahin 'Masih ada gue'.
Kalo itu terjadi gue bakal lompat dari jembatan flyover Senayan.

Setelah selesai masa-masa yang begitu memilukan dan mengharukan itu, gue pulang ke rumah. Berusaha untuk mengetahui yang sebenarnya, gue sms si 'yang diharapkan'.

'Hei, lagi apa?' Basa-basi banget, khas gue. Dammit.

Dia masih bales sms gue. Untungnya. Dan gue akhirnya punya kesempatan untuk menanyakan hal yang tadi.

Ternyata jawabannya: nggak! She doesn't have any bf!

Sejak saat itu gue mendendam pada sang sumber. Mungkin gue akan bikin sinetron siluman, Dendam Nyi Bolot. Hehe, just kidding, I wouldn't do that.

Gossip is not good, all right.

Thursday, May 14, 2009

She smiled back at me!

Lanjutan dari cerita yang ini, akhirnya gue memberanikan diri untuk melakukan perubahan. Yah, antara lain setelah menemukan kitab itu sendiri di sini. Haha. Thanks Bang Iwan, Anda sangat membantu saya.

Eniwei, setelah melalui berbagai cobaan berat, gue berhasil mengirimkan sms yang kemarin. Dan ternyata gue berhasil mengetik nama si 'yang diharapkan'. Yey. Daaaaannn... ternyata dibales! Oh. My. God.

Jadi cerita berlanjut dengan gue smsan beberapa kali ama 'yang diharapkan'. Kejadiannya seperti repetisi. Gue duduk, ngetik sms, ngirim, menunggu dengan manis, dan bersorak ketika sms dari 'yang diharapkan' sampai ke ponsel gue. Sial, gue ngerasa kayak dulu lagi!

Proses smsan itu akhirnya berakhir setelah 'yang diharapkan' bilang kalau mau les. Di akhir pesan itu berbunyi:

'Kapan-kapan kita smsan lagi ya .. Hihi :-)'

Dem.

* * *

Hari ini gue sekolah biasa aja. Malah, nggak ngapa-ngapain. Toh ujian praktek untuk kelas gue juga udah selesai. Jadi kerjaan gue disekolah hanya main, main, dan main, selain ngeliatin orang pacaran. Heran, banyak amat sih yang suka pacaran di depan gue? Sepertinya tren pacaran di pojok atau pacaran di bawah pohon sudah berganti dengan tren pacaran di depan Bobby. Agh. Liat aja, gue nanti juga bisa! (amiiiin).

Karena nggak ada apa-apa, akhirnya udah waktu pulang. Dan tebak, gue lagi ngumpul ama temen-temen gue di depan gerbang sekolah, dan 'yang diharapkan' juga sedang melakukan hal yang sama! Bagaikan film India, gue sama dia kadang liat-liatan, liat-liatan, tanpa ada yang ngomong sama sekali. Maklumlah, gue lagi sama temen-temen gue yang super ribut, dan dia juga lagi kumpul ama temen ribut versinya. Terhitung tiga... empat... abis empat berapa ya...? Oh iya, lima... enam kali mata gue sama mata dia bertemu pandang (halah). Tetapi sampe gue mau pulang nggak juga ada yang ngomong.

Gue mencoba untuk jaim dan tampak cool. Tapi jika lo berada disekitar temen-temen gue, 'jaim' is an impossible thing to do. Coba, udah pada ngakak sukanya keras-keras, becandanya kadang fisik, udah kayak kebun binatang aja. Kalah Taman Safari.

Tapi sepertinya 'yang diharapkan' nggak terlalu memperhatikan hal itu. Bagus!

Yah, tapi tetep aja kita masih diem seribu bahasa sampai gue akhirnya ngajakin temen-temen gue pulang. Gue jalan, dan dia kira-kira berjarak tiga meter dari gue. Pas banget mata gue ngeliat mata dia lagi ngeliat ke mata gue (nahlo!), gue nyoba untuk senyum. And guess what, she smiled back! One cute, beautiful smile, for ME! Ambilin baskom, dong. Kayaknya tubuh gue akan meleleh.

Dan Fikri, yang dari tadi di sebelah gue, nyengir-nyengir kuda. Gue dorong dia, berharap agar nyusruk, tapi gagal.

Monday, May 11, 2009

Damn, gue butuh kitab PDKT!

Sepertinya makin ke sini gue makin bingung akan cewek. Hell, banyak yang di sekitar gue dan bahkan mereka nggak melirikkan sebelah mata mereka (emang bisa, ya?) ke arah gue. Damn, life is peachy for sure. Mungkin emang belom saatnya gue punya seseorang yang bisa ngertiin gue, sejak gue merasa hanya gue sendiri yang ngerti tentang bagaimana gue. Mungkin gue agak berlebihan, I don't know.

Hem, harapan gue untuk si 'dia' yang waktu itu gue bilang kayaknya udah ilang dari otak dan hati gue. Udahlah, gue males juga ngejar-ngejarnya. Target sudah hilang. Ngomong-ngomong target, gue sih lagi dalam penetapan target akan seorang anak cewek di sekolah gue juga. Anaknya manis, sih. Tapi gue juga nggak mau terlalu berharap. Bahkan yang tau kalo gue suka sama dia baru Fikri doang. Karena dia juga udah ngebuka rahasianya ama gue, jadi wajiblah gue membuka kartu gue. Dan sialnya, hal itu membuat kita berdua memegang kartu as masing-masing. Sekali salah, bisa kebuka dan ancur semuanya. Uah.

Kembali ke anak yang tadi, ciri-cirinya sih masih khas gue. Rambut pendek sebahu, muka ngangenin, lucu, dan (keliatannya) nggak sombong. Gue sih berharap aja, semoga kisah yang gue buat nggak mendapat unhappy ending like Raditya Dika's stories had. Sori bang Radith, untuk urusan cinta gue nggak mau ikut-ikutan elu dah. Haha.

Oh, iya. gue berniat untuk menuliskan cerita gue dalam proses pendekatan sama dia di blog ini. Untuk seterusnya, gue akan menuliskan dia sebagai 'yang diharapkan', minjem istilahnya Bang Radith. Hehe.

Eniwei, dammit, tadi gue pulang ketemu dia. Dan itu membuat gue semakin menggila. Hiaagghh. Dua hari yang lalu gue sempet chat sama dia. Ngobrol, dan nomor hp pun sukses gue dapet. Tapi apa yang gue lakukan? Nggak berani sama sekali untuk mengirim sms ke dia. Di draft gue pesannya berbunyi:

'Hei, ini Bobby. Save nomer gue ya.'

I don't know, entah kenapa semakin gue baca tulisan itu semakin terdengar bodoh. Nggak mencerminkan maksud gue sebenernya. Dan, gue nggak bisa mengumpulkan keberanian untuk bahkan mengetik nomornya. Damn, gue butuh kitab PDKT!