Saturday, April 11, 2009

Waktu Itu

Waktu itu jam pulang sekolah.
Waktu itu saat pendalaman materi.
Waktu itu kita belajar.
Waktu itu materi matematika.
Dan waktu itu.

Waktu itu...
Orang itu dengan segala kesombongan yang mungkin pernah dimiliki seorang manusia mengatakan bahwa kita, gue, ga bisa. Dan gue hanya bisa tertawa kecil. Emangnya lo bisa?

Come on, try me! Atau lo takut ketahuan bahwa actually, there are some of us who are better than you. Tapi apa mau dikata. Yang sudah ya sudahlah. Toh gue juga nggak rugi apa-apa. Lagian mungkin nanti gue akan dibilang sombong atau apalah. Mendingan gue mulai nulis puisi lagi daripada mendengarkan ocehan yang sama sekali tidak berpendidikan. Atau mungkin gue akan meneruskan membuat apa yang kata mereka biografi masa depan. Ya. Itu lebih baik.

Sudah saatnya pelajar bangkit, pak! Sekarang bukan zaman feodal yang hanya bisa disuruh-suruh dan dimaki!

Friday, April 10, 2009

Sebuah Karya

Di dalam hati ini
Terukir butir-butir kehampaan
Yang pertaruhkan nyawa, kebebasan
Tanpa berpikir tentang tujuan

Beratus-ratus insan yang ada
Tak sedikit yang membekas
Dan kuucapkan ini kepadamu
Hanyalah impian, wahai kawan

Hapuslah gurat frustasimu
Hidupkan api kecil semangat di dadamu
Teruslah bermimpi, nurani
Pertahankan emosi membaramu

Karena karya hanya sebuah permulaan
Dan kisahmu adalah kesudahan
Hanya tinggal dirimu dan khayalanmu
Yang membantumu terus berdiri

Kawanku, pikiranku, emosiku
Lewati batasan-batasan dunia
Menuju langit yang penuh
Berisikan tulisan-tulisan
Lukisan tentang pahit manis kehidupan

Thursday, April 09, 2009

My Music Journey

Gue punya band.

*krik krik*

Oke, sekali lagi. Gue beneran punya band.

Gue, anak sok tau yang punya banyak cita-cita ini, pertama kali belajar musik sama bokap gue. Alat musik pertama gue -kalo sendok dan ember ga masuk hitungan- adalah gitar akustik yamaha, yang masih dalam kategori kebesaran untuk gue yang masih kelas enam SD. Untungnya, gue bukan anak yang banyak ngomong pas latihan. Seperti latihan gue yang ke sekian kali :

bokap : ayo sekarang kita mainin lagu burung kakatua.
gue : ...
bokap : kenapa? ayo main dari kord A!
gue : ...
bokap : kamu kenapa?
gue : ...

Alasan kenapa gue diem begitu, mungkin hanya Tuhan yang tahu. Karena gue sendiri nggak tahu. Anyway, I learn to play guitar in no time. Setelah beberapa kali latihan gue udah bisa mainin beberapa lagu dengan lancar. Lagu-lagu pertama gue antara lain :

- Burung Kakatua
- Pelangi Di Matamu (Jamrud)
- Manis dan Sayang (Koes Plus)

Sejak saat itu, gue mulai berpikir untuk jadi musisi terkenal. Karena kakak gue, Tommy, juga telah duluan belajar gitar, dan punya temen-temen yang bisa main musik, gue di ajak ngeband. Maklum, temen-temen gue ga ada yang bisa main musik. Paling banter juga main galasin.

Alhasil, jadilah gue ngeband pertama kalinya dengan personil sebagai berikut :
Gue (gitar), Daya (gitar), Munawar (vokal), Tommy (bass), Rifqy (drum).
Band itu diberi nama Neptunesz. Ya, Neptunesz. Look, I'm not the one who give the name!

Tapi, walaupun dengan nama yang sengaja di eja salah itu, gue tetep seneng, karena 1.) gue bisa main gitar, 2.) gue punya band, dan 3.) gue udah nggak main galasin lagi.

Ketawa boleh, ga ketawa boleh.
Percaya boleh, ga boleh percaya.
Karena itu emang ga bener. Gue masih main galasin sampai gue lulus SD. Sumpah!

Tapi sayangnya, abis gue lulus dan masuk SMP, Daya pindah sekolah. Berkurang satu personil, band masih jalan. Posisi Daya di ganti sama Munawar, yang main gitar sekaligus vokal. Tetapi setelah beberapa kali latihan bareng, dan gue beberapa kali gantiin Munawar nyanyi, akhirnya hakim menetapkan bahwa gue yang jadi vokalis. Umm... horay?

Band berganti nama setelah itu. Diputuskan bahwa nama yang akan digunakan adalah Seventh Day. Mungkin beberapa orang akan susah dalam menyebut nama ini.
Maklum, orang Melayu.
Sekali lagi maklum, apalagi kalo itu masteng.

Panggung pertama yang kita injak dan tidak merasa kesakitan terletak di Gang Mes, Kebon Pala. Gue lupa itu acara apa. Tapi yang jelas, itu panggung pertama gue, dan gue dengan sukses menyanyikan dua lagu. Numb dari Linkin Park dan All The Small Things oleh Blink-182. Lagu kedua itu adalah lagu pengantar gue untuk menjadi die-hard fan dari Blink.

Setelah itu ada beberapa panggung lagi yang kita ikutin. Di Semanggi Expo, di SMP 5, lalu di sekolah kami sendiri. Band ini sempat berganti personil ketika Munawar keluar dari band dan digantikan oleh Adhi. Tapi setelah beberapa saat (Adhi bahkan belum sempat manggung bareng kita), formasi band kembali seperti semula.

Sekadar informasi, band ini beraliran punk melodic, tapi masih ada unsur popnya. Sampe sekarang band gue udah nyiptain beberapa lagu seperti Sejak Pertama, Penipu, Berdiri dan Terjatuh Kembali, dan masih banyak lagi. Semua lagu diciptakan oleh Tommy, meskipun ada satu, Waiting, yang berasal dari hasil jerih payah gue yang menumpahkan darah dan keringat.
Sekali lagi, ga boleh percaya.
Tapi sekali lagi juga, Waiting beneran karya gue.

- - - -

Yap, itu sekilas tentang band gue. Yang jelas, meskipun vokalisnya gue, frontman band adalah Tommy. Kalo ada yang mau kita main, hubungin aja lewat blog ini ya.

Dan itulah kisah dari gue.
Anak yang punya band.
Seorang vokalis.
Dan seorang gitaris.
Bukan lagi seorang anak yang hobi main galasin.

The Letter for You

Dear love,

I'm glad that our relationship had grown down. And like every fairy tales I've met, I guess that our story will get the unhappy ending. No more of your suspense-thrilling-spiritful lies. And those reality shows that your face will keep floating in my head.
Silence, constantly written. Maybe that way I could forbid your soul from entering my mind. So much of your Miss know-it-all thing. And in my opinion, the end is coming silently and desperately.
Let my soul be taken by the horror movies' player. So then two years later I will reincarnate into a bee and swat you until you die.

Yeah, but no.

I couldn't do it. The look in your eyes prevented me. Well, six months spent can make people love to death.


From your fellow.

Tuesday, April 07, 2009

CD dan Karang Gigi

...kamera siap?...
...siap!...
...make up, make up!...
...all set!...
...we're live in five, four, three, two...

...


Ehem.

Gue berdiri tegak di depan pintu. Saat itu gue bagaikan seorang jenderal yang siap berperang sampai titik darah penghabisan. Tapi alih-alih memegang senapan, gue malah memegang secarik kertas yang bertuliskan :

1. Aqua galon
2. Kopi ABC susu 6
3. Soffel lotion (sedapetnya)
4. Biskuat coklat

Yap. Gue, seorang jenderal yang disuruh ke warung ama nyokap. Yah, berhubung gue sekalian mau beli CD, dan bokap gue mau ketemu ketua RT Penjernihan, jadilah kami berangkat, gue diboncengin motor ama bokap.

Pemberhentian pertama adalah warung. Seperti biasa, bokap parkir, dan gue yang melakukan negosiasi dengan sang pemilik warung untuk mencapai kesepakatan yang diinginkan. Jadilah gue kembali ke motor sambil membawa hasil belanjaan gue.

Kedua, gue sama bokap gue ke tempat fotokopi yang ada di depan sekolah. Di sana gue beli CD kosong yang harganya empat ribu rupiah. Misi kedua selesai, lalu kami jalan lagi ke tempat pak RT.

This is the strangest part, especially for me. Rumah pak RT berada di sebuah gang sempit yang gue yakin dua orang pemain Smackdown tidak bisa lewat secara bersamaan tanpa memicu perseteruan. Gue disuruh tunggu di motor dan bokap gue nerusin jalan kaki sejauh lima atau enam meter menuju sebuah rumah. Bokap gue lalu masuk ke rumah itu dan tinggallah gue, cowok sendirian ditemenin motor ama galon aqua jam setengah delapan malem di gang sempit.

Buruknya nasib gue, ya?

Beberapa waktu berlalu, bokap gue belom keluar juga. Gue mulai iseng mukul-mukul galon untuk menghibur diri sendiri sampe tiba-tiba ada tiga cewek yang gue gak terlalu jelas umuran berapa datengin gue.

'Permisi mas,' kata salah satunya. 'kita dari rumah sakit AL mau meriksa keadaan gigi di lingkungan sini. Boleh nggak kalo kita periksa mas?'

'Yaudah boleh,' kata gue tanpa mikir-mikir dulu.

Tapi karena langit gelap dan mereka pada ga bawa senter jadilah gue digiring ke tempat yang terangan dikit. Dan gue disuruh buka mulut, diperhatiin sebentar, dan inilah vonisnya:

'Mas banyak karang giginya nih.'

Whaaaat?? Perasaan gue rajin gosok gigi dan lain-lain.

Yang satu nanya lagi, 'mas mau nggak jadi pasien kita?'

'Wah, gatau deh,' kata gue, sekarang sambil berpikir. Gila aja, gue yang innocent ini harus dibawa ke dokter gigi cuma karena ada karangnya. Dan juga karena gue agak ga percaya gitu.

'Kalo bisa sih pagi, mas. Eh, mas masih sekolah?'

Gue mengangguk.

'Sekolah di mana?'

'Empat puluh' kata gue dengan pe-denya.

Mereka kaget. 'Hah, masih SMP?'

Lagi, Gue mengangguk. Sepertinya kenyataan bahwa gue masih SMP membuat mereka bingung bagaimana selanjutnya. Lalu akhirnya:

'Mas, ada nomor yang bisa di hubungi? Kita minta nomor mas aja deh,'

Lalu gue ngasih nomer telepon rumah gue. Secara gue baru keilangan hape beberapa bulan yang lalu dan sampai sekarang masih dalam vakansi. Terus mereka nanya nama gue. Gue kasih, trus bokap gue dateng.

Hal yang terjadi berikutnya adalah mereka menyapa bokap gue 'Slamat malem pak,' dan pergi ke rumah di deket situ terus mengetuk pintunya. Gue sendiri langsung naik motor dan pergi dari sana.

Setelah itu gue pergi ke warung lagi (Diori) untuk membeli aqua galon. And after the tiring (and maybe weird) night, gue pulang.

Tapi pertanyaan masih tersisa di kepala gue.
Pertanyaan yang akan membuat gue penasaran seumur hidup.
Pertanyaan yang ga bisa gue jawab sendiri.
Pertanyaan yang masih menghantui.
Yaitu pertanyaan tentang :

'Karang gigi itu apa, sih?'