Sial.
Perut gue sakit lagi.
Sepertinya akhir-akhir ini banyak hal buruk yang terjadi di hidup gue. Coba liat: Perus sakit, kepala pusing, pilek, komputer mati-nyala, dan TV model baru di kamar gue yang namanya TV gebrak. Harus digebuk dulu sebelum jelas gambarnya. Agh.
Sedangkan hal baik yang terjadi belakangan antara lain gue punya HP baru. Nokia 7210 Supernova yang telah melepaskan kerinduan gue akan 5300 yang lalu. Yeah.
Seharusnya gue lebih berhati-hati menghadapi musim nasib buruk gue ini. Dengan begitu masalah ini nggak bakal terjadi.
* * *
Hari ini ujian praktek elektro. Inti dari tugasnya sih sebenernya hanya membuat rangkaian sederhana yang terdiri dari steker, stop kontak, saklar, dan diakhiri dengan fitting lampu beserta lampunya sendiri yang harus dirangkai di atas satu papan kayu. Pekerjaan cocok untuk om tukang listrik.
Gue sekelompok bersama si papi-mami Erza dan Muthia juga Putri. Erza emang selalu menjadi mitra gue bila berurusan dengan listrik-listrikan. Nggak tau kenapa. Mungkin muka lo kayak saklar kali ya, Za. Bisa dicetak-cetekin.
Pekerjaan berlangsung dalam berisik. Suara ketokan palu begitu membahana bagaikan koor di kelas. Tok, tok, tok. Kelompok gue sendiri bekerja dengan giat. Mulai dari yang terakhir, fitting, terus kedepan. Rangkaian udah jadi, tinggal memasangkannya pada papan. Yang berarti kita harus mulai main palu dan paku.
'Siapa nih yang ngerjain?' tanya Erza.
Sebuah tangan teracung dengan semangat ke atas. Tangan gue. Dengan tampang penuh antusias dan nafsu (lho?!), gue meraih palu dan paku dan mulai membidik. Ini saatnya. Semua bagaikan sunyi sesaat dan slow motion. Paku sudah ditempat, palu perlahan naik ke atas dan terus ke atas. Dengan sekuat tenaga dan penuh keyakinan gue menghantamkan palu itu ke arah paku yang diam.
Dok!
'Yaaaaaaa!!'
'Yaa' tersebut bukanlah 'Yaa' senang. Lambat laun suara teriakan itu berubah.
'aaaaaAAAAAHHH!'
Gue bukan lagi disuruh minum alpukat. Bukan juga lagi disuruh makan taoge. Tetapi: tangan gue kena palu!
Sial!
Untung tenaga gue saat itu tidak terlalu tersalurkan melalui palu bejat tersebut, sehingga tangan gue hanya sukses nyeri tanpa membengkak. Tapi tetep aja. Gue memandang mitra kelompok gue. Erza diem. Erza, Muthia, dan Putri memasang wajah bego-lu-bob dengan prihatin. Akhirnya tugas gue diambil alih sama Erza. Sori Za, gue masih belom sembuh dari pusing nih, jadi belom bisa fokus! (masih aja ngeles)
Anyway akhirnya tugas tersebut selesai. Ah, menyebalkan, karena tangan gue masih berdenyut dengan riang. Tapi biarlah, sebanding ama nilai yang didapat.
Pesan moral yang gue ambil: kalo lo nggak bisa berurusan dengan palu dan paku, jangan jadi tukang listrik!
Nasip, oh nasip.
Perut gue sakit lagi.
Sepertinya akhir-akhir ini banyak hal buruk yang terjadi di hidup gue. Coba liat: Perus sakit, kepala pusing, pilek, komputer mati-nyala, dan TV model baru di kamar gue yang namanya TV gebrak. Harus digebuk dulu sebelum jelas gambarnya. Agh.
Sedangkan hal baik yang terjadi belakangan antara lain gue punya HP baru. Nokia 7210 Supernova yang telah melepaskan kerinduan gue akan 5300 yang lalu. Yeah.
Seharusnya gue lebih berhati-hati menghadapi musim nasib buruk gue ini. Dengan begitu masalah ini nggak bakal terjadi.
* * *
Hari ini ujian praktek elektro. Inti dari tugasnya sih sebenernya hanya membuat rangkaian sederhana yang terdiri dari steker, stop kontak, saklar, dan diakhiri dengan fitting lampu beserta lampunya sendiri yang harus dirangkai di atas satu papan kayu. Pekerjaan cocok untuk om tukang listrik.
Gue sekelompok bersama si papi-mami Erza dan Muthia juga Putri. Erza emang selalu menjadi mitra gue bila berurusan dengan listrik-listrikan. Nggak tau kenapa. Mungkin muka lo kayak saklar kali ya, Za. Bisa dicetak-cetekin.
Pekerjaan berlangsung dalam berisik. Suara ketokan palu begitu membahana bagaikan koor di kelas. Tok, tok, tok. Kelompok gue sendiri bekerja dengan giat. Mulai dari yang terakhir, fitting, terus kedepan. Rangkaian udah jadi, tinggal memasangkannya pada papan. Yang berarti kita harus mulai main palu dan paku.
'Siapa nih yang ngerjain?' tanya Erza.
Sebuah tangan teracung dengan semangat ke atas. Tangan gue. Dengan tampang penuh antusias dan nafsu (lho?!), gue meraih palu dan paku dan mulai membidik. Ini saatnya. Semua bagaikan sunyi sesaat dan slow motion. Paku sudah ditempat, palu perlahan naik ke atas dan terus ke atas. Dengan sekuat tenaga dan penuh keyakinan gue menghantamkan palu itu ke arah paku yang diam.
Dok!
'Yaaaaaaa!!'
'Yaa' tersebut bukanlah 'Yaa' senang. Lambat laun suara teriakan itu berubah.
'aaaaaAAAAAHHH!'
Gue bukan lagi disuruh minum alpukat. Bukan juga lagi disuruh makan taoge. Tetapi: tangan gue kena palu!
Sial!
Untung tenaga gue saat itu tidak terlalu tersalurkan melalui palu bejat tersebut, sehingga tangan gue hanya sukses nyeri tanpa membengkak. Tapi tetep aja. Gue memandang mitra kelompok gue. Erza diem. Erza, Muthia, dan Putri memasang wajah bego-lu-bob dengan prihatin. Akhirnya tugas gue diambil alih sama Erza. Sori Za, gue masih belom sembuh dari pusing nih, jadi belom bisa fokus! (masih aja ngeles)
Anyway akhirnya tugas tersebut selesai. Ah, menyebalkan, karena tangan gue masih berdenyut dengan riang. Tapi biarlah, sebanding ama nilai yang didapat.
Pesan moral yang gue ambil: kalo lo nggak bisa berurusan dengan palu dan paku, jangan jadi tukang listrik!
Nasip, oh nasip.