Tuesday, June 22, 2010

Putri Dari Surga

Seperti kebanyakan laki-laki ngenes yang enggak punya rencana dalam hari liburnya, gue sempet terbengong-bengong di rumah. Akhirnya, untuk mengantisipasi terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan (ngelamun jorok, bertindak anarkis dengan menghancurkan kloset yang tidak jelas tujuannya apa), gue memutuskan untuk menjalankan solo mission ke toko buku. Karena toko buku terdekat dari rumah gue ada di Plaza Semanggi, jadilah gue berangkat ke sana seorang diri. Sendirian. Di hari liburan. Kesian ya?

Dari kunjungan gue itu, gue berhasil membawa pulang (beli, bukan nyolong) beberapa buku. Tapi ada satu buku yang menyita perhatian gue. Ini bukunya:



Judul: Putri Dari Surga
Penulis: N Dean
Penerbit: Djavadipa

Sekilas, dilihat dari judul, buku ini tampaknya berisi tentang cerita dongeng seorang putri cantik yang berasal dari surga dan bermain-main di kerajaannya yang damai. Tapi buku ini punya dua tagline yang ada di depan dan belakang buku, berbunyi:

Dua detik saja terlambat, semua orang akan berada dalam genggamannya. Dunia akan dikuasainya.

Dan satu lagi:

Ingat baik-baik
Tak seorang pun akan berpikir
Untuk menguasai dunia, menghancurkannya
dengan kasih sayang dan cinta


Kawan-kawan, tampaknya kita bukan berhadapan dengan putri dongeng kali ini. Dan keraguan gue itu diperjelas oleh sinopsis di sampul belakang buku itu.

"Novel ini tentang seorang gadis kecil Alynna. Orangtuanya meninggalkannya di rumah sakit saat melahirkannya. Beberapa orang sempat mengadopsi Alynna dan semua berakhir di penjara, karena mendapat tuduhan telah menyiksa Alynna. Hingga pada akhirnya pun ia mendapat simpati dari semua orang, tetapi ini justru melahirkan anarki yang maha dahsyat.

"Kenyataan sebenarnya adalah Alynna justru yang menyiksa dirinya sendiri karena dia dikuasai unsur jahat, dan hanya satu orang yang mengetahui hal ini: Nevy Morrison. Nevy Morrison menyimpulkan bahwa iblis mengutus Alynna untuk menghancurkan dunia dengan perantara orang-orang yang sangat simpati dengan penderitaannya."


Benar sekali, kawan. Kita bukan berhadapan dengan putri dongeng.

Dan malam ini, gue baru aja selesai baca buku itu (I know, I have a crazy speed at reading). Dan hanya satu kata untuk kesan gue terhadapnya.

Aneh. Aneh secara keseluruhan.

Pertama, gue enggak tahu ini novel terjemahan atau bukan. Novel ini enggak menggunakan bahasa khas novel pada umumnya, dan terdapat beberapa kata slang (nggak banyak) bahasa Indonesia yang tampak aneh untuk ditulis penerjemah. Tapi nama tokoh-tokoh seperti Alynna, Nevy Morrison, Vionna Morgan, dan Camilla Neill nggak biasa untuk novel Indonesia, meskipun itu mungkin aja.

Kedua adalah pengarangnya. Seperti tertera di gambar di atas, nama penulisnya adalah N Dean. Biografi singkatnya:
N Dean, lahir sebelum, setelah, atau mungkin juga sama dengan anda. Mulai aktif menulis sejak bisa menulis. Dan ia sama sekali bukan seorang penulis terkenal, oleh karena itu karya-karyanya pun jarang sekali dimuat dalam media lokal, nasional, apalagi internasional.
Profil itu sama sekali enggak mencantumkan tempat lahir atau apapun. Terlebih lagi, foto yang terpampang di sana hanyalah foto tampak samping close up seseorang dengan rambut panjang terurai, dengan menampilkan hanya sebagian kecil wajah, yaitu mata dan hidung, di sela-sela rambutnya. Dengan tampilan seperti kuntilanak itu, itu cowok apa cewek aja gue enggak tau.

Yang ketiga, adalah dari segi penuturan cerita. Enggak kayak novel-novel yang sering gue baca, cerita Putri Dari Surga tampak begitu blak-blakan. Semua seperti ditumpahkan begitu aja, enggak memberikan ruang untuk bernafas di sela-sela kalimatnya. Tapi entah kenapa, tulisan blak-blakan itu seakan punya magnet yang menarik untuk membuka halaman selanjutnya. Jujur, gue agak aneh dengan gaya penulisan yang enggak biasa, dan ada kesalahan (entah disengaja atau enggak) kata-kata dan tanda baca yang menurut gue enggak perlu.

Tapi dari segi cerita, bisa dibilang ini karya luar biasa. Penuh dengan twist-twist yang membingungkan, kenyataan-kenyataan yang menghentak. Dari fakta bahwa ternyata Alynna, si kecil yang selalu saja menjadi sorotan media, bukanlah anak dari Mr. dan Mrs. Burklay yang meninggal ketika rumahnya terbakar, hingga penyelidikan demi penyelidikan Nevy Morrison terhadap Alynna yang berujung pada satu hasil yang penuh misteri: angka 666.

*

Karena penasaran, gue buka google dan nyari Putri Dari Surga. Nihil, enggak ada hasilnya. Gue cari N Dean, enggak akurat juga. Gue nyari dari penerbit, Djavadipa, yang keluar malah buku kimia untuk SMA.

Gue bingung.

Gue buka website gramedia dan nyari judul buku Putri Dari Surga, 'buku yang dicari tidak ditemukan'.

Nahlo.

Gue mulai panik,
TERUS YANG GUE BELI INI BUKU APA?

Apalagi dengan fakta bahwa di akhir cerita, sang 'Iblis' masih berkeliaran, ngebuat gue merinding.

Tampaknya,
Putri Dari Surga akan terus menghantui gue!

Tuesday, June 15, 2010

Roads Are War Fiels

Ujian akhir sekolah udah berakhir beberapa waktu lalu. Yang bisa dibilang cukup sukses; setidaknya jalan masuk ke jurusan IPA terbuka lebar. Dan gue akan maju selangkah dalam kehidupan gue. Kewren banjets enggak seh.

Anyway, gue udah lama enggak ngeblog lagi (yang kalau saja ada kontes banyak-banyakan ngomong kalimat barusan, mungkin gue bisa masuk tiga besar). Salahkan diri saya. Haduh, saya, gimana sih. Tampaknya ulangan beberapa hari yang lalu itu menghentikan produktivitas gue dalam menulis, baik blog dan yang lainnya. Tapi berita baiknya adalah liburan ini gue berniat menulis lagi, pick it up where I left off.

Sayangnyaaa... berita baik pasti datang dengan berita buruk. Nah, berita buruknya: udah dua hari ini gue sakit. Enggak ada tanda apa-apa, tau-tau ini penyakit nyamber. Hueh. Tiba-tiba gue ngerasa pusing, demam, meriang, pilek, batuk berdahak, dan jadi punya video Ariel-Luna. Oke, yang terakhir ga ada hubungannya.

Dan di minggu ga jelas ini (gue sebut minggu ga jelas, karena ini adalah minggu setelah UAS dimana murid-murid masih diharuskan datang ke sekolah meskipun enggak jelas maksud dan tujuannya apa. Well, you've been there done that.) gue memutuskan untuk tinggal di rumah (enggak, gue bukan sebelomnya tinggal di atas pohon atau apa). Hanya tidur-tiduran di kasur sambil sesekali bangun untuk makan dan pipis.

Ga makna banget sih hidup lo, Bob. Hahhh... *desahan putus asa*

*

Di post kali ini, gue akan membahas tentang lalu lintas di Jakarta. Kenapa? Karena di saat belakangan gue sering naik sepeda ke sekolah, otomatis gue harus menghadapinya setiap pagi dan sore saat berangkat dan pulang. Dan gue yang dulunya selalu dianter bokap naik motor ini tiba-tiba jadi sadar bagaimana lalu lintas di Jakarta itu. Maklum, anak rumahan.

Lalu lintas di Jakarta semrawut dengan mobil dan motor. Pantes aja Jakarta panas, emisi karbon dioksida-nya udah sangat membeludak. *efek pasca-ujian*

Tapi ada satu hal yang ngebuat gue males terjun ke jalanan Jakarta.

Kalau di sepak bola, seberapapun kuatnya lawan, lo masih punya rekan setim yang ngebantu lo untuk mencapai kemenangan. Kalau di sekolah, seberapapun sulitnya ulangan, lo masih punya temen yang bisa dicontekin. Tapi di jalanan, semua berbeda.

Roads are war fields. Tampaknya semua orang berkonspirasi untuk memusuhi satu sama lain (itu namanya bukan konspirasi ya). Hanya ada sedikit banget toleransi sosial di jalan, semua terkalahkan oleh kepentingan individual untuk menuju tujuannya masing-masing. Dan demi tujuan itu, manusia bisa kehilangan mannernya.

Sebagai contoh, kalau tiba-tiba di jalan satu jalur ada truk yang mogok, mobil-mobil dibelakangnya akan 'menyanyikan' klakson nyaring yang bernada kesal. Mereka tidak peduli masalah apa yang menimpa truk dan supir truk, hanya peduli dengan waktu mereka yang terbuang sia-sia. Mereka melampiaskannya dengan memaki-maki dari dalam mobil. Cring, dosa nambah.

Belum lagi kalau ada yang melanggar rambu-rambu, khususnya lampu lalu lintas. Bagi sebagian orang, merah dan hijau adalah hijau. Yang melanggar tak tahu malu menancap gas, dan yang dilanggar, kendaraan yang dilalui jalurnya oleh si pelanggar, membunyikan klakson. Memaki lagi. Nambah dosa lagi.

Jujur, gue enggak akan turun ke jalanan kalau saja jalanan bukan jalan satu-satunya untuk pergi ke tempat yang dituju. Tapi sayangnya, itulah kenyataannya. Walhasil gue harus berhadapan dengan 'musuh-musuh' itu setiap hari. Apalagi gue naik sepeda, mereka naik mobil dan motor. Kalau sampai tabrakan, mereka bayar reparasi, nah gue bayar pemakaman.

Seandainya gue bisa terbang, atau setidaknya seandainya cheat jetpack dari game Grand Theft Auto berlaku di hidup gue, gue pasti udah menggunakannya. Tapi nanti bikin polusi lagi. Haduh, hidup ini susah.

Jadi saran gue,
jangan nyimpen video Ariel-Luna. Entar kena razia loh.