Friday, November 27, 2009

The Inventors: A Great TV Show!

Siang itu gue lagi nonton TV di kamar apartemen nenek gue. Gelap-gelapan, sunyi, sendirian. Em, ini gue nonton TV apa maling?

Anyway, di apartemen nenek gue itu ada beberapa channel tv luar negeri yang ketangkep antena parabolanya. Karena cenel-cenel Indonesia saat itu lagi tidak menggiurkan, gue mulai iseng-iseng memainkan jempol ke cenel luar negeri.

Cenel pertama, umm... gue enggak tau itu cenel mana. I don't know the language, so, gue hanya mendengar suara kumur-kumur. Mungkin perancis atau meksiko, atau mungkin cuma tv zimbabwe. Lalu gue pindah channel lagi dan menemukannya: Australia Network.

Kenapa gue milih channel ini? Karena orang-orangnya ngomong dengan logat British. Ihiy. Me really likey.

Saat itu, channel AN pas banget lagi ganti program. Layar menampilkan gambar karikatur (well, bukan karikatur sih, lebih tepat kayak model dua dimensi) otak manusia diikuti dengan kata-kata THE INVENTORS.

(Wow. Dari judulnya aja ketauan ini acara keren. Lanjut!)

The Inventors adalah acara semacam talkshow yang menghadirkan inovator-inovator di Australia dan memberi kesempatan pada mereka untuk melakukan presentasi tentang benda atau hal yang mereka ciptakan. Hostnya adalah seorang Australia berumur kira-kira empat puluhan, botak, dan berbicara dengan logat british yang kental dengan bibir yang nggak nyantai. Tapi bagaimanapun, gue akuin bahwa dia adalah host yang keren, karena dia bisa ngebangun suasana.

Di acara tersebut juga menampilkan tiga juri. Masing-masing punya tugas sendiri-sendiri, yaitu sebagai penilai desain, penilai orisinalitas dan efektivitas, dan penilai prospek jangka panjang dari inovasi tersebut. Dan tampak banget kalo ketiga juri itu merupakan ahli di bidangnya masing-masing.

Saatnya menampilkan para kontestan.

Inovasi pertama yang ditampilkan adalah milik seorang pemuda surfer yang berumur kira-kira dua puluhan bernama Matthew Graham. Dia menciptakan sebuah surfing bag multifungsi; sebuah tas berbentuk menyerupai dan seukuran surfing board yang mempunyai beberapa lapis. Satu lapis untuk menyimpan papan surfing nan panjang, satu lapis dengan kompartemen-kompartemen untuk menyimpan barang-barang seperti sunblock, handuk, dan perlengkapan lainnya, serta satu lapis lagi yang kegunaannya nggak dikira: sebagai sleeping bag! Jadi kalo kita capek abis surfing dan pengen istirahat di tepi pantai, tas tadi dapat berguna dan sangat nyaman, karena terbuat dari bahan yang empuk dan memberikan kesan sejuk. Tas itu dijual seharga 600 dolar Australia.

Kedua adalah ciptaan seorang ahli dunia internet, Edward Dimple, yang dulunya mengalami kesulitan ketika berada di cafe dan lupa membawa uang tunai. Inovasinya adalah M-Hits. M-Hits adalah sebuah fasilitas untuk melakukan pembayaran hanya dengan mengirimkan sms. Pengguna harus membuat akun melalui internet dan menyetor uangnya ke sana situs tersebut, lalu mereka bisa melakukan pembayaran tanpa tunai di cafe-cafe yang mempunyai fasilitas M-Hits tersebut yang ternyata sudah banyak di Australia. Berdasarkan efektivitas dan efisiensi, produk ini menunjukkan kapasitasnya.

Yang ketiga merupakan sebuah alat kesehatan yang diciptakan oleh seorang dokter orang lansia bernama Helene. Produknya diberikan nama M.U.M.A atau Multi Use Mobility Aid. M.U.M.A adalah sebuah alat bantu bagi seorang perawat dalam memberikan mobilitas bagi pasien yang tidak cukup kuat lagi untuk bergerak sendiri. Alat tersebut bisa membantu pasien bangkit dari posisi tidur, berdiri, duduk, dan hal-hal sulit lainnya yang sering menyusahkan orang-orang tua yang kekuatan tubuhnya sudah berkurang.

Acara The Inventors juga enggak terkesan garing karena si host-botak menyisipkan banyak kelakar-kelakar segar di setiap kata-katanya. Bukan cuma sang host, para juri juga melontarkan beberapa lelucon, yang membuat gue berpikir bahwa orang-orang Australia itu humoris.

Acara berlanjut ke penilaian. Host meminta para juri untuk menentukan, atas dasar kegunaan, efisiensi, orisinalitas, dan desain, produk mana yang paling unggul dari yang lain. Terjadi perdebatan seru. Sang ahli desain memilih Multi-purpose Surfing Bag karena ia memandang benda itu sebagai sesuatu yang sangat efektif untuk perjalanan. Sang ahli prospek memilih M-Hits karena menurutnya produk itu akan berhasil di masa depan. Dan juri satu lagi kesulitan memilih antara M-Hits dan M.U.M.A.

Tapi pada akhirnya, juri yang terakhir memilih M-Hits, sehingga membuat Edward Dimple mendapatkan trofi sebagai Best Inventor. Kedua inventor lainnya menyelamati sang pemenang dengan senyum.

Menurut gue, acara ini mempunyai konsep yang bagus: mendukung para inventor, menghibur, dan menginspirasi penonton untuk meng-invensi barang-barang lain yang bisa berguna untuk kehidupan sehari-hari. Para kontestan dan juri juga cukup sportif dan menarik, sehingga ngebuat The Inventors menjadi acara yang patut ditonton. Apalagi, dalam acara ini sama sekali tidak ditampilkan commercial break. Uah, puas banget nontonnya.

Setelah nonton acara itu, gue keinget acara-acara TV Indonesia yang enggak lepas dari selingkuh, banyak reality show yang sejenis tapi nolak kalo disebut latah, pocong, shitnetron, dan hal-hal ga penting lainnya.

Dan gue berpikir:
Indonesia really needs new inventors.

Wednesday, November 25, 2009

Laut, Body Surfing!

Srek, srek, srek, srek. Gue berlari dengan kecepatan tinggi di pantai, mengarah ke laut. Lalu -syut- gue lompat.

Byur.

Kepala gue muncul keluar dari air, dengan baju yang basah kuyup.

Yeah! Udah lama gue nggak ngerasain kebebasan kayak gini. Gue ngeliat anak-anak yang lain juga pada langsung berlompatan kayak walrus ke laut. (emang walrus bisa lompat?)

Saat itu, gue lagi di Anyer. Ngerayain ulang tahun klub baseball gue, Teladan. Jadi hari Sabtu itu anak-anak baseball dan softball, dari yang masih di SMA 3 sampe yang udah kuliah dan senior, ngumpul. Nginep disana.

"Hey, Bob!" panggil Innu, temen gue. Dia juga udah nyebur ke laut. "Body surfing, yok!"

Wah, boleh juga tuh, pikir gue. Lumayan, udah sampe ke sini, kenapa enggak? Itung-itung nambah pengalaman. Oke, ketauan deh kalo gue belom pernah body surfing.

"Ayo, nyewa dimana?" kata gue.

"Noh," Innu nunjuk ke satu orang anak sekitar yang kulitnya item kebakar matahari sambil bawa-bawa papannya. Sekilas, dia mirip Lintang di Laskar Pelangi. Tapi gue inget ini di Anyer, bukan Belitong. Si Lintang (anak tadi), ngeliat gue ama Innu nunjuk-nunjuk, nyamperin kita.

"Nyewa, mas?" katanya. Kata-katanya kedengeran kayak gue sama Innu adalah om-om yang mau nyewa dia buat semalem. Gue mau jawab, "Enggak dek, kesian adeknya. Masih sekolah. Nanti aja, sepuluh tahun lagi, ya?" tapi ga jadi. Takutnya dia nanti malah tersinggung, terus bunuh diri. Serem.

Ehem. Oke, ngelantur.

Singkat cerita jadinya gue sama Innu nyewa papan body surfing dan langsung meluncur lagi ke laut. Here comes the challenge! Uoh.

Ombak saat itu udah lumayan gede. Saat itu udah jam setengah lima sore, jadi udah mulai pasang. Dan bagi gue yang selama ini menjadi anak kota, ngeliat ombak gede-gede gitu, merasa ombak itu nantangin gue. Langsung gue masuk ke air agak jauh dari pantai, nunggu satu ombak yang enak untuk dinaikin.

Dan ombak itu pun datang. Gue sama Innu udah masang posisi. Tiga, dua, satu--

Wuuuusssh! Gue langsung meluncur di atas ombak sampe ke pantai. Innu ngelakuin hal yang sama, juga beberapa anak lainnya.

El fantastico. Rasanya kayak ngendarain kuda yang lari kenceng. Padahal gue belom pernah nunggang kuda yang lari, paling jalan pelan doang.

Dan ini, nagih.

Gue langsung ke laut lagi, mengulang-ulang beberapa kali. Mungkin gue waktu itu kayak anak kecil yang nemuin mainan baru dan mainin dengan gila-gilaan. Ya, ini sangat menyenangkan. Muahahahahah.

"Ati-ati Bob, udah pasang nih airnya!" kata Yogo, temen gue juga.

Gue ngebantah. "Aah, biarin aja. Santaaai," kata gue dengan songongnya. Lalu gue balik lagi ke laut.

Pas udah nyampe tempatnya, gue nungguin ombaknya dateng. Dan bener aja; ombak setinggi dua meter lebih tiba-tiba muncul. Gue langsung masang posisi dan lompat tepat pada waktunya. Gue meluncur lagi ke pantai.

"Wooohoooo!" teriak gue kegirangan. Tapi tiba-tiba--

Byur!

Papan seluncur gue teguling. Beruntung, saat itu gue udah deket dari pantai, jadi airnya cetek. Tapi ga enaknya, gue pas jatoh jadi kena pasir. Suakiiiit!

Innu lari datengin gue. Gue kira dia mau nolong. Ternyata:

"Bego lo Bob! HAHAHAHAHAHAHA!"

Kampret.

*

Jujur, sebenernya gue agak takut sama laut. No, gue bukan kena rabies. Tapi gue takut laut karena: gue nggak tau apa yang ada di balik air yang biru itu. Mana tau kita kalo tiba-tiba di deket pantai ada karang tajem, atau ada hiu, atau yang paling parah: ada bencong yang berdandan ala putri duyung yang tiba-tiba berenang ke arah kita.

Men, itu pasti sangat menakutkan.

Tapi yah, perjalanan kali ini emang asyik. Udah lama gue nggak main ke alam bebas kayak gini lagi. Belakangan, gue cuma mendekam di rumah tanpa pergi kemana-mana. Yeah, mungkin gue udah berubah menjadi cupu.

Tapi toh, gue akhirnya ngerasain lagi.

Kapan ya gue liburan ke gunung?

Another Excuse From The Very Own Me

Hi there. Miss me?

Udah lama banget gue enggak nulis. Yah, mungkin juga posting kali ini cuma buat pembelaan gue aja atas kevakuman gue dari dunia blog selama ini.

Sebenernya sih, hampir setiap saat gue pengen banget ngeblog. Blogging addicts me. But therefore, banyak hal yang lebih tinggi prioritasnya untuk dikerjakan. So well, blog gue terbengkalai deh.

Anyway, gue jadi semakin jarang nulis karena semua tulisan gue kayak udah tercurah di twitter. Then again, ya, gue lagi-lagi menyalahkan situs jejaring sosial yang satu ini. Damn you twitter!

Well, tapi yang paling berpengaruh dalam vakumnya blog gue adalah: gue nggak tau mau nulis apa.

Jujur, akhir-akhir ini hidup gue terbagi jadi dua. Ada momen yang terlalu biasa untuk dituliskan, dan momen yang terlalu penting untuk dituliskan. Alhasil, gue enggak nulis sama sekali.

I know this sucks, karena gue juga bertanya ke diri gue sendiri: katanya lo mau jadi penulis, kok, nulis blog aja lo angin-anginan? Tapi ya mau gimana. I'm shattered and delighted at the same time. Jadi akhirnya sekarang gue memutuskan untuk nulis lagi. Sebisa gue.

Anjrit, kedengeran cengeng abis.

Lagipula, belakangan hidup gue lagi banyak masalah. Mungkin sedikit banyak itu juga berpengaruh.

Gue tau, ini keliatannya nyari-nyari alesan banget. Tapi, yah... gue ngerasa bersalah ninggalin blog gue begitu lama.

So, here I was, and here I am. Back to the story, guys!