Wednesday, December 30, 2009

The Bandung Incident

Hey!

Gue baru pulang dari Bandung. Yeah, akhirnya paling enggak gue ngerasain udara luar kota yang udah mulai jarang gue rasain. Kenanya udara Jakarta melulu. Bau, panas, berasap. Ehm, kok jadi kedengeran kayak tai kebo.

Yah, dua hari selama di Bandung itu bener-bener gue nikmatin.

Dan liburan kali ini pertama kalinya gue ke Bandung tanpa mampir ke Cihampelas. Bosen kali, ada apaan sih di sana? Yang selalu gue dapet cuma macetnya doang. Huh. Dasar. (malah ngomel)

Hmm.

Kemaren gue ke Bandung bareng keluarga. Enggak banyak kok, cuma bokap, nyokap, kakak, adek, om, kakek, nenek. Well...

Tapi yang nyolotin, Bandung jadi macet banget. Malah kata sodara gue yang tinggal di sini, 'Kalo belom ngerasain macet, lancar-lancar aja, artinya belom nyampe Bandung.'

Dan kemacetan, seperti biasanya, sangat membosankan. Can't the government do anything?

Other note, sebagai penutup posting ini, ada satu insiden yang waktu itu gue tulis di Tumblr pas lagi macet-macetnya. Gue akan tulis lagi di sini.

*

Waktu itu, gue baru nyampe Bandung. Seperti yang dikira: macet dimana-mana. Di jalan udah kayak cendol badak-badak besi yang nggak heran kebanyakan berplat B.

Hmm. Kayaknya Si Komo lagi liburan juga disana. Dasar lu, Mo. Ganggu aja.

Anyway, biar ga bosen, kita yang di dalem mobil memutuskan untuk bikin sebuah game. Cara mainnya simpel: harus baca tulisan apapun yang ada di sepanjang jalan bergantian tanpa boleh terputus. Yang ikut adalah om gue, kakak gue, adek gue, dan gue sendiri.

Permainan dimulai. Sahut-sahutan mulai terdengar.

'Honda!'
'Cicaheum!'
'Kiri jalan terus!'

Tapi adek gue diem doang.

'Ayo dong, kamu juga ikut,' kata om gue. Abis itu, game mulai lagi.

'Heritage!'
'Bakso atom!'
'Toko Mas Rajawali!'

Sekali lagi, adek gue diem.

'Ayo dong dek! Ga seru nih,' kata gue. Adek gue ngangguk. Sekali lagi, game di mulai.

'Purbaleunyi!'
'Sate ayam pak kumis!'
'Jual duren mateng pohon!'

Adek gue kali ini tersenyum. Terus dia teriak:

'Obat kuat!'

Thursday, December 24, 2009

When 2009 Meets An End

Ga kerasa kita udah sampe di penghujung tahun lagi. Enggak terasa, emang. Tampaknya waktu terus-terusan ngebohongin kita dan berjalan dengan kecepatan mengerikan. Mengerikan, ya.

Well, di tahun 2009 ini udah banyak yang terjadi, dan sekarang gue pengen melihat lagi apa yang telah gue lakuin di tahun ini.
Let's see...

1. UAN
Well, ya. Satu event yang bagi sebagian besar siswa di Indonesia merupakan mimpi buruk ini telah berhasil gue laluin dengan, yah, lumayan sukses. Gue dapet nilai rata-rata 9.15.

2. Lulus!
Ini emang tahun yang menyenangkan, karena akhirnya gue lulus SMP! Peringkat pertama, lagi!

3. Pensi dan reuni akbar
Event terakhir yang bisa gue dan Ozon'48 selenggarakan, yang ternyata merupakan pensi pertama di 40 setelah lima tahun. And we're successful on realizing it. Cool.

4. Masuk SMA
Dan dengan segala nilai yang bagus itu akhirnya gue sukses menjadi pelajar putih abu-abu di SMA 3 Jakarta. Keren.

5. Baseball
Yeah! Tahun ini gue bertemu dengan olahraga super menyenangkan ini. Hehe.

6. New friends and new people
Yes, I met new marvelous friends and people in my life. Could I ask anything better than that?

7. Kekasih
Oke, bahasa di atas terlalu formal. Bahasa bekennya... cewek. Found a special one in last month, dan mari kita lihat apa yang akan terjadi.

Selain itu juga masih ada, kayak tangan gue kena palu pas praktek elektro (baca), surat yang gue tulis buat komputer gue yang ngambekan (baca), gue didiagnosa berpenyakit karang gigi (baca), penyakit baru yang berhasil gue temukan setelah pensi (baca), sampe saat dimana gue akhirnya menemukan arti dan sejarah dari nama gue (baca).

Sebenernya kejadian-kejadian aneh di tahun 2009 ini masih banyak. Tapi, well... karena kemungkinan jari gue bertambah jumlahnya gara-gara kebanyakan ngetik sangat besar, maka gue ngerasa cukup itu aja yang gue tulis di post gue kali ini.

*

Speaking of 2009, selain hal-hal yang udah gue dapet, hal-hal yang menjadi resolusi gue tahun lalu ada juga yang belom tercapai. For example, gue belom berhasil dapet beasiswa.

Another one, tulisan gue juga belom sempet dimuat di majalah atau koran apapun. Ah, every hero starts from zero. Yang penting gue gak menyerah.

Tahun 2010 harus tercapai! Uoh!

Oh iya, masih ada lagi hal keren yang terjadi di tahun ini, yaitu: gue dapet peringkat pertama di kelas sepuluh semester pertama! Harus bisa pertahankan, dan pmdk akan ada di depan mata. Yeay! I love 2009 as I did in previous years and will do for the next ones!

Anyway... walaupun kecepetan...

Happy New Year 2010!

Tuesday, December 22, 2009

Cowok Merah-Biru Bersayap

Hey guys, I'm back to the blogverse!

Hueheheh.

See, I've been speaking a lot lately in twitter about how I hate procrastination. Tapi ternyata malah gue yang berprokrastinasi untuk ngeblog lagi. Ironis. Bau amis. Oh, emang gue belom mandi.

Pernah ada temen gue yang bilang 'Kalo lo terus nunda-nunda, lama-lama lo bakal hidup di hari kemarin.' At first, gue ga ngerti maksud dia apa. Tapi setelah direnungkan, ditelaah, dibawa semedi selama sepuluh tahun, gue mulai mengerti. Ternyata dia hanya seorang gay. Eh bukan. Ternyata kalo kita selalu menunda-nunda pekerjaan yang seharusnya dilakuin hari ini untuk dikerjain besok, ya sama aja 'besok' menjadi 'hari ini', dan 'hari ini' jadi 'kemarin'. Otomatis kita sekarang ada di kemarin, karena pekerjaan hari ini diubah jadi besok.

Hmm.

You know what? Let's get over it, gue aja lama-lama bingung ama omongan gue sendiri.

*

By the way: Happy Holidaaaay!

Ya, liburan udah dateng! Woohoo! Pergilah sana kesibukan selama 24/7! Die you die! *dendam kesumat*

Seperti yang kita tau, libur akhir tahun adalah saat-saat yang membahagiakan, dimana anak-anak sekolah ga lagi sekolah, orang-orang kantor ngambil cuti, dan banci-banci berubah jadi laki-laki. Well, yang terakhir mungkin ga ada hubungannya ama liburan, cuma udah pagi aja.

Honestly, gue belom ada rencana sama sekali liburan ini mau pergi kemana. Mau jalan-jalan, duit lagi tiris. Kalo di rumah aja, pengen keluar. Hidup memang kadang menyakitkan.

Speaking of liburan, gue sebenernya punya tipe liburan yang paling gue suka. Pergi ke tempat yang damai kayak di gunung, yang adem, yang walaupun ramai juga ga seramai Jakarta. Jakarta udah menjadi terlalu krodit, dimana-mana gue ngeliat plat D, AB, dan lainnya berkeliaran di jalan-jalan.

Atau kalo enggak gunung, ke pantai juga boleh. Yes, I need a peaceful place where I can relieve my mind from all the mess I got back here. Pengen relaksasi di tempat-tempat sejuk yang kaya akan nyanyian harmonis dari alam sekitar. Huah.

I need those!

Seandainya ada supermen yang akan menjemput gue dan membawa gue jalan-jalan keliling dunia. Dan kalo emang nantinya ada, sup, tolong celana dalemnya pake di dalem ya. Gue udah cukup dongo tanpa ada cowok keker merah-biru bersayap yang pake cd di luar berjalan di samping gue. Hii.

Eh, tapi beneran nih. Ada yang mau ngajak gue jalan ga? (konsekuensi ditanggung pengajak) Gue masih free loh. Free as a bird in the falling sky.

Wait, the sky is falling?!

Saturday, December 12, 2009

Reasons Of Being A Writer (my version)

Gue udah sering bilang di blog ini, bahwa gue bercita-cita jadi penulis. Yang terkenal, maksudnya. Karena cuma jadi penulis mah, anak kecil yang baru belajar nulis juga bisa.

Ya, di tulisan ini gue pengen cerita tentang cita-cita gue itu.

Mungkin banyak khalayak yang mikir kalo profesi ini enggak elit. Kalah sama pemain bola, pemain film, penyanyi, anak band, pejabat, dan profesi-profesi lainnya. Bahkan profesi-profesi yang barusan disebut seperti menjanjikan profit yang tidak sedikit. Jadi, kenapa gue milih pengen jadi penulis?

Jawaban pertama, adalah karena gue menemukan jiwa gue di bahasa. Gue suka baca, gue suka nulis. Nulis ngebuat gue nyaman. Gue bisa ngungkapin apa aja yang ada di kepala gue dengan menuangkannya di tulisan. Gue hampir bisa tau karakter setiap orang hanya dengan ngebaca tulisan mereka. Gue bahkan bisa dibilang spelling nazi--orang yang risih kalo bahasa digunain enggak dengan semestinya. Tapi enggak dengan pidato ya. Gue males berpidato, atau bahkan hanya ngomong di depan orang banyak. That's not my style.

Jawaban kedua, karena modal yang dibutuhin di profesi ini ga terlalu banyak. Jadi penulis paling hanya menguras waktu dan pikiran, tanpa dibutuhkan tenaga sedikit pun. Kecuali lo nulis sambil push up. Bicara duit juga, ga bakal ngeluarin banyak. Apalagi jaman sekarang yang udah modern. Nulis enggak harus di atas kertas. Bisa di PC, laptop, atau juga bisa di hp, dengan konsekuensi lo harus siap jari lo berbentuk six-pack.

Jawaban ketiga, karena gue suka berkhayal. Dan gue selalu gatel untuk menuliskan khayalan gue itu dalam bentuk cerita, sehingga gue juga ga cepet lupa.

Jawaban keempat, karena profesi ini juga bisa disandingkan dengan profesi lain. Misalnya nanti gue jadi ahli komputer, gue bisa bikin cerita berdasarkan ilmu gue itu dalam tulisan-tulisan gue. Atau misalnya nanti gue jadi dokter hewan. Nanti gue bikin cerita fabel yang berkisah tentang cinta antara tikus dan gajah, yang terhalang oleh ukuran gajah yang beratnya sejuta kali lebih besar dari tikus. Tikus masih berkeras menunjukkan cintanya pada gajah, tanpa kenal lelah. Ternyata tiba-tiba ada kucing yang ngejar-ngejar si tikus. Si gajah ngeliat, terus dia nginjek si kucing dengan kekuatan dua puluh truk. Si kucing gepeng dan mengibarkan bendera putih tanda menyerah. Oh, kok jadi Tom and Jerry banget.

Well, empat jawaban diatas gue anggap udah mewakili alasan kenapa gue memilih profesi ini jadi cita-cita gue.

Tapi perlu gue ingetin, cita-cita ini berbeda dengan target gue. Target gue adalah mendapatkan pendidikan setinggi-tingginya di bidang IT. Yes, gue enggak mau hanya jadi penulis kacangan berilmu rendah. Setidaknya bila gue enggak berhasil di satu bidang, gue masih punya bidang lain sebagai alternatif.

Anyway, gue ngerasa perlu ngasih tau sesuatu. Khususnya buat orang-orang yang menyanding prinsip 'go with the flow' dalam hidup mereka: hidup enggak semudah itu. Kecuali lo emang salah satu orang yang paling beruntung di dunia, lo ga bakal sukses dengan cara kayak gitu. Tetapin tujuan hidup lo. Dan lihat: lo akan lebih termotivasi dalam menjalani hidup demi mencapai tujuan tersebut.

Life's a choice, so, why don't we start to choose early?

New Look, New Name: Ada Alien Di Rumahku!

Mungkin semua udah bisa ngeliat, but for those who haven't, I'm proudly telling you that I've changed the blog looks, and also: the name!

Mungkin pada bingung kenapa nama blog gue jadi 'Ada Alien Di Rumahku!'. Jawabannya, karena gue pengen nyari nama blog yang fangki, yang gaul, dan terkesan anak muda jaman sekarang. Semua itu untuk menutupi bahwa sebenernya gue adalah om-om botak yang udik. Nggak deng.

Anyway, layout blog gue juga udah berubah lagi. Kayaknya kata-kata bosen enggak pernah ada habisnya keluar dari mulut gue ini. Well, akhirnya gue memutuskan untuk balik lagi ke simplisitas dalam mendekorasi blog gue. So, here it is. All white and red. Gimana enggak nasionalis.

Karena udah ganti nama, gue ngerasa perlu mengenalkan ulang blog gue lagi nih. Heheh.

Ada Alien Di Rumahku! adalah sebuah blog yang berisi segala hal di kehidupan gue, baik yang paling wajar maupun yang mengedepankan absurdisme. Di blog Ada Alien Di Rumahku! gue juga menyajikan opini-opini tentang banyak hal, kayak musik, politik, edukasi, dan lain-lain. Yah, pokoknya Ada Alien Di Rumahku! ditujukan hanya untuk bersenang-senang, tertawa, tanpa ada maksud untuk menyakiti perasaan siapapun. So, sit back and enjoy the ride!

Mungkin ada yang bertanya, kenapa alien? Kenapa enggak kambing atau robot atau semacamnya?

Kambing udah dipake dari jaman bahela sama Raditya Dika. Nah, kalo 'Ada Robot Di Rumahku!' terkesan gue kayak orang geek maniak sci-fi yang suka sama robot-robot pembantu urusan manusia. Enggak deh. Alien gue anggap sebagai gambaran yang paling pas tentang keanehan. Yang pastinya ada di blog ini.

Tapi tenang aja. Di rumah gue enggak ada alien beneran kok. Gue juga bakal kaget kalo misalnya di lemari gue tiba-tiba ada alien kontet yang nunjuk-nunjuk langit dan minta nelpon rumahnya, terus gue diajak naik sepeda terbang. Oh, kayaknya udah pernah dibuat film ya.

Dan akhirnya jadilah namanya: 'Ada Alien Di Rumahku!'. Waktu pertama gue pake nama ini di blog, adek gue yang masih kelas tiga SD nyamperin gue. Dia bilang, 'Aliennya siapa mas? Aku?'.

Dek, kamu bukan alien.
Kamu itu sigung. Bau.

*

Other note, dengan nama baru ini gue juga berharap bisa menambah semangat gue untuk terus ngeblog. Dan juga biar pembaca gue lebih banyak. Sebagai penulis, gue ngerasa seneng kalo banyak orang yang baca tulisan gue. Karena itu, gue akan terus berusaha supaya tulisan gue bisa menyenangkan banyak orang. Uoh!

Ada Alien Di Rumahku!

Monday, December 07, 2009

I Am Alien... Tapi Boong

Akhir-akhir ini gue batuk-batuk terus.

No, bukan batuk-batuk ganjen yang biasa digunain mas-mas buat godain mbak-mbak gatel. Ini bener-bener... batuk. Batuk yang menyebalkan, yang bikin dada sakit. Dan anehnya gue cuma batuk kalo gue lagi tiduran doang.

Kemungkinan pertama: gue alergi tiduran.
Kemungkinan kedua: gue hamil. Dem, ini kemungkinan yang paling serem. Masalahnya kalo nanti gue ke dokter terus gue positif hamil, gue pasti akan ribet... buat nyari bapaknya.

Saking kesel karena gue batuk-batuk terus, gue sering mukul-mukul dada gue sendiri. Which is sesuatu yang sangat bodoh, karena malah ngebuat gue mau muntah. Akhirnya gue memutuskan untuk minum obat komix. Komix doraemon. Oh, itu komik.

Hal ini menjadi sangat menyebalkan, apalagi kalo gue lagi telepon sama pacar gue.

Pacar: 'Kamu lagi ngapain?'

Gue: 'UHUK UHUK UHUK.'

Pacar: 'Udah makan belom?'

Gue: 'UHUK UHUK UHUK.'

Pacar: 'Makan dulu sana...'

Gue: 'UHUK UHUK UHUK.'

Kalo telepon gue disadap, pasti orang-orang yang denger bakal ngira pacar gue lagi ngomong ama alien.

*

Other note, minggu kemaren adalah exam week.

Ya. Lagi.

Kali ini adalah ulangan akhir sekolah atau yang nama bekennya UAS. Keren amat ulangan punya nama beken? Kalah gue, yang tiap hari dipanggil Alexander. Oke, itu gue boong.

By the way, ulangan kali ini pun--walaupun masih ada yang nggak lulus--hasilnya cukup memuaskan. Yah, enggak parah-parah amat lah. Masih lumayan. Tenang aja, masih di atas rata-rata, jangan khawatir. (kok ini gue jadi malah kayak ngeyakinin diri gue sendiri?)

Tapi emang bener. Setidaknya masih lebih baik dari banyak temen-temen gue yang sayangnya dapet hasil yang kurang. Ga percuma lah udah bela-belain duduk di depan dan mencoba nangkep apa yang guru ajarin. Hap. Lalu ditangkap.

However... gue tetep ngerasa kalo hasil ulangan ini juga masih belom maksimal. Harusnya gue bisa lebih! Pasti abis ngeliat nilai gue selalu belom puas, kenapa enggak belajar lebih biar bisa dapet nilai yang lebih juga. Tapi nasi udah jadi bubur. Lembek-lembek gitu. Hii. Enakan nasi aja, pake rendang. Daripada bubur.

Oke, ngelantur.

Intinya, gue ga mau nantinya gue nyesel ga dapet PMDK gara-gara nilai semester satu ini jelek. Jadi, plis bu Cut, tulislah nilai yang bagus di rapot ananda! Agar ananda bisa mendapat PMDK di tahun ketiga! Uooh!

Bu Cut for president!