Sunday, August 28, 2011

Si Ormas lagi, si Ormas lagi

Kalo blog gue bisa ngomong, pasti dia akan bilang, “Gue udah karatan nih, Bos. Lo masih sayang sama gue ga sih.”
Kalo blog gue bisa ngomong, pasti dia akan bilang, “Kemana aja lo, Bos? Ninggalin gue lama banget, Pocong aja sampe udah punya Twitter.”
Kalo blog gue bisa ngomong, pasti dia akan bertanya, “Mana janji manismu, setia sampai akhir waktu?”
Gue curiga kalo blog gue sebenernya Giring Nidji.

*

Sepanjang tahun ini, gue mengalami banyak perubahan. Mulai perubahan sifat hingga perubahan wujud. Enggak, gue bukan Power Ranger. Gue Cardcaptor Sakura.

Anyhow, ada satu perubahan yang mungkin udah lama gue alamin tapi gue baru sadari akhir-akhir ini. Gue semakin jarang nonton berita di TV. Gue enggak ngikutin sama sekali apa yang terjadi di Indonesia saat ini. Pengetahuan gue tentang hal-hal itu hanya sebatas permukaan. Kalo mau dirangkum dalam satu kalimat, mungkin begini: gue udah menutup mata terhadap kondisi Indonesia.

Ya, dulu gue mungkin agak cerewet dengan kondisi negara kita ini. Lihat aja post gue tentang Ujian Akhir Nasional atau post ketika Ultah Indonesia ke-65. Terus, apa yang terjadi sekarang? Apa gue udah kehilangan apa yang mereka sebut ‘nasionalisme’? Apa gue udah enggak cinta sama Indonesia?

Seperti yang gue pernah bilang dulu, gue cinta Indonesia. Ya, gue cinta Indonesia, tapi bukan orang-orangnya. Bukan otaknya. Ini negara tempat gue dilahirkan, jadi gue berkewajiban untuk mencintainya. Bahkan tanpa kewajiban pun, gue akan tetep cinta sama Indonesia. Tapi cinta gue bukan untuk orang-orang yang mengaku orang Indonesia tapi malah menghancurkan negaranya sendiri.

Menurut gue, kondisi Indonesia udah buruk sampai seburuk-buruknya. Selama orang-orang itu masih ada dan menjadi pimpinan kita semua, gue memilih untuk pesimis. I choose to be pessimistic, that way I won’t be disappointed.

*

Terus, apa yang ngebuat gue tiba-tiba mau nulis lagi? Ketika gue sedang nganggur beberapa hari yang lalu, gue akhirnya nonton berita. Gue takjub sama beberapa berita yang gue baru tau, padahal dari cara pembawa berita itu menyampaikan, gue tau itu bukan berita baru. Selain itu, gue juga diminta sama Sella untuk kembali menulis blog. Entah karena dia kangen tulisan gue atau karena dia pengen menggunakan tulisan ini untuk melatih anak-anak TK belajar membaca. Either way, makasih, Sel!

Okay, enough with the prologue, let’s get to the main thing.

Di post kali ini, gue akan membahas tentang sebuah Ormas Islam di Indonesia.

*

Setelah gue diminta Sella untuk menulis tentang ormas tersebut, gue iseng ngebuka Detik.com dan mencoba nge-search dengan keyword singkatan nama ormas yang berjumlah tiga huruf itu. Tiga-empat berita pertama yang muncul berhubungan dengan kasus pelarangan tayangnya film berjudul ‘?’ (Tanda Tanya) karya Hanung Bramantyo di salah satu stasiun televisi. Berita selanjutnya, ormas itu melakukan sweeping mobil penjual miras. Lanjut lagi, sweeping restoran yang buka di siang hari di bulan puasa. Makin ke bawah, sweeping, sweeping, dan sweeping.

Untuk soal yang pertama, gue ga bisa komentar secara teknis, karena gue sendiri belum pernah nonton film yang dimaksud. Tapi gue agak heran dengan alasan salah satu pimpinan Ormas ketika ditanya mengapa pelarangan ini dilakukan. Ia menyatakan bahwa, dalam film ini, Islam digambarkan sebagai agama yang bengis dan kejam, seperti menaruh bom di gereja dan menusuk orang keturunan Cina.

Benarkah kayak gitu? Gue nyoba browsing review-review film ‘?’.

Apa yang gue tangkap dari ulasan-ulasan tentang film itu adalah, film ‘?’ mengangkat tema toleransi beragama, yang notabene merupakan isu sensitif di Indonesia. Hanung mempertanyakan tentang toleransi yang berkembang di masyarakat. Ia menganggap bahwa umat beragama di Indonesia sekarang ini sudah jauh dari kerukunan. Hal itu digambarkan tentang kisah-kisah yang disajikan, mulai dari seorang muslimah yang bekerja di restoran babi, lalu orang yang pindah agama karena masalah poligami.

IMO, masalah yang terjadi di kasus adalah pikiran orang-orang Ormas tersebut terhadap sebuah film. Mereka sepertinya masih terpaku dengan istilah “Pesan Moral” yang pasti terkandung dalam sebuah cerita. Padahal, menurut gue, there’s no such thing as “Pesan Moral”. Kenapa?

Pesan Moral diidentikkan dengan pesan atau amanat yang ingin disampaikan sang pembuat cerita terhadap penikmat ceritanya. Entah itu film, buku, atau apapun. Anggapan tersebut mengisyaratkan bahwa setiap film harus mempunyai amanat atau pelajaran yang bisa diambil oleh pemirsanya. Enggak ada yang salah dengan itu. Namun, yang masih belum baik, menurut gue, adalah cara ‘menafsirkan’ pelajaran tersebut.

Orang-orang itu menganggap, apa yang ditayangkan, itulah pelajarannya. Jika ada adegan anak kecil mencium tangan orang tuanya, maka film itu mengajarkan untuk hormat terhadap orang tua. Jika ada adegan seorang anak sekolah sedang belajar, maka film itu mengajarkan untuk rajin belajar. Nah, kira-kira apa yang terjadi kalau ada adegan pengeboman, adegan perkelahian, adegan peperangan dalam sebuah film?

Mereka tak bisa mengerti bahwa adegan tersebut merupakan satu fragmen dari keseluruhan film, dan bahwa amanat yang bisa diambil dari film tersebut adalah secara utuh, bukan per adegan. They can’t see the big picture. Maka tidak heran kalau mereka melihat adegan usaha pengeboman gereja dan menganggap film ini tidak bagus karena ‘mengajarkan untuk membunuh orang yang berbeda agama.’

Secara sederhana, film dengan Pesan Moral dapat dibuat bagan seperti ini:
Orientasi —> Masalah —> Solusi

Sedangkan, dalam film ‘?’, Hanung ‘mengubah’ bagan itu menjadi:
Orientasi —> Masalah —> Pertanyaan

Seorang Hanung Bramantyo tidak memberikan solusi terhadap masalah yang ia angkat, melainkan memberikan kebebasan terhadap penonton untuk menemukannya sendiri. Melalui ‘?’, Hanung menyajikan realita-realita yang mungkin saja terjadi di sekitar kita. Ia mungkin ingin memperlihatkan bagaimana kondisi toleransi beragama di Indonesia saat ini. Tapi ia tidak menggurui. Dengan kata lain, Hanung mengajak penonton untuk berpikir.

Ya, berpikir. Salah satu—kalau bukan satu-satunya—masalah yang dimiliki oleh mayoritas masyarakat Indonesia. Begitu juga dengan orang-orang Ormas tersebut.

*

Off topic sedikit, contoh kasus lemahnya pemikiran orang Indonesia juga bisa dilihat dari komentar seorang petinggi negara ketika ada wacana untuk memasukkan Sex Education dalam pelajaran sekolah. Waktu itu ia berujar ‘Sex Ed itu tidak perlu. Nanti juga mereka tahu sendiri pada waktunya.’

Mungkin dia pikir Sex Ed mengajarkan siswa ‘cara-cara’ berhubungan seksual? Itu mungkin komentar terbodoh yang pernah gue dengar. Kalo emang begitu, ga perlu ada Sex Ed, tinggal beli Kam*su*ra, beres. Mungkin gue akan ngebahas tentang Sex Ed di post gue selanjutnya.

*

Yang kedua adalah masalah sweeping. Hal ini semakin ngebuat komentar bahwa Ormas tersebut merasa tersinggung karena Islam digambarkan sebagai bengis dan kejam terdengar kontradiktif dan konyol. Mereka menggembar-gemborkan bahwa Islam adalah agama yang damai, namun tetap merusak mobil penjual miras, mengobrak-abrik restoran di Makassar, penyerangan sekretariat sebuah aliran Islam, bahkan yang baru aja terjadi jam setengah enam sore ini, pemukulan pemuda yang dianggap mabuk. Dan mereka marah dibilang kejam dan bengis? Yang bener aja.

Apapun yang mereka lakukan seakan cerminan dari lemahnya pemikiran orang-orang fanatik agama yang kolot dan tidak mengerti arti toleransi. Dalam Undang-undang juga disebutkan bahwa setiap warga negara memiliki kebebasan untuk memeluk agamanya sendiri, tanpa paksaan. Kalau diibaratkan, sebuah orkestra musik yang dimainkan oleh instrumen-instrumen berbeda satu sama lain tetap menghasilkan bunyi yang harmonis. Namun, apa jadinya bila terompet dimainkan dengan penggesek biola, atau biola dimainkan dengan ditiup?

*

Intinya dari tulisan ini, gue pengen orang-orang Indonesia lebih membuka pikiran. Kalaupun sebuah film, buku, atau apapun, memiliki unsur yang menjelek-jelekan agama, hendaknya diteliti lebih dulu. Introspeksi diri, istilah kerennya. Cie abis.

Ini kan hanya masalah iman. Kalo mereka menganggap keyakinan bisa tergoyahkan karena hal-hal kayak gini, selemah itu kah iman orang-orang kita?

Cheers.

Sunday, April 24, 2011

Ujian Akhir Nasional

Greetings and salutation, pembaca. Kita bertemu lagi. Muahahahah. *niatnya ketawa setan*

Setelah beberapa bulan ini gue habiskan untuk bersemedi mencari pencerahan atas masalah putusnya Anang-Syahrini—ehm, permasalahan-permasalahan di sekolah, akhirnya gue menyempatkan diri untuk ngeblog lagi.

Pada post kali ini gue akan mengemukakan pendapat gue perihal (ceilah) pelaksanaan UAN—Ujian Akhir Nasional—SMA yang telah berlangsung beberapa hari yang lalu dan UAN SMP yang baru saja akan dilaksanakan. Ya, UAN. Kenapa UAN? Karena UAN sering disebut juga UN. Hubungannya? Mana gue tau.

Anyhow, Ujian Akhir Nasional atau UAN ini berlangsung setahun sekali dan dialami oleh setiap siswa tahun terakhir SMA dan SMP di Indonesia. UAN menentukan kelulusan siswa—dulunya, sebelum adanya perubahan peraturan bahwa nilai rapot pun akan mempengaruhi kelulusan. Pelaksanaan UAN pun sering diberitakan di TV, tentang bagaimana soal dibagi menjadi lima paket, pendistribusiannya yang dikawal polisi, serta persiapan siswa dalam menghadapi ujian.

Berita-berita tersebut—well, membuat gue bingung. Terutama tentang yang terakhir.

Di berbagai sekolah, doa bersama dilakukan. Guru, siswa, dan orang tua pada nangis-nangisan. Banyak siswa minta doa sana-sini, minta maaf sana-sini. Bahkan ada yang sebelum UAN menyempatkan diri berziarah ke makam.

I mean—hey, people, you're not sending your kids into war. Kalo mereka stress karena UAN, itu malah karena mereka sendiri yang ngebuat UAN jadi menakutkan! Dalam agama pun diajarin, kalau mau sukses harus usaha dan berdoa. Kalau gede doanya doang, mau jadi apa?

Ini akan sama aja kayak ujian biasa—tapi disinilah letak permasalahannya.

Pada ujian biasa, mayoritas siswa terlalu menggampangkan. Mereka menganggap, "Ah, biar aja, masih ada remedial ini kalo nggak tuntas." This is what most Indonesians do: thinking that they still have extra lives. Padahal, kalau udah dibiasain menghadapi ujian dengan serius, seharusnya UAN bukan masalah besar.

Pak Mario Teguh pernah berkata sesuatu seperti ini: "Nanti setelah UAN, anak-anak SMA pada bahagia, gembira, lolos dari jebakan menakutkan. Masuk universitas, ketemu ujian lagi."

Ya. Ini bukan akhir dari perjuangan. Masih banyak ujian-ujian lain di masa mendatang. Dari universitas sampai ke lingkungan kerja pasti ada ujiannya masing-masing. Kalo dari kecil udah stress tiap kali ujian, pada waktu sidang skripsi S1 gue ga heran kalo rambut mereka udah memutih.

Kakak gue juga adalah salah satu siswa yang ngikutin UAN SMA tahun ini. Ada satu saran yang pernah nyokap gue kasih pada awal dia kelas tiga, yaitu: "Agar bisa memenangkan 'perang', 'tentara' menyiapkan banyak 'amunisi'; karena itu, siapkanlah 'amunisi' sebanyak-banyaknya sedini mungkin agar tidak keteteran pada akhirnya."

That's an advice to remember.

Gue nggak menyuruh untuk menggampangkan—santai dan menggampangkan itu dua hal yang berbeda. 'Santai' di sini adalah tidak terburu-buru, yaitu belajar dari jauh hari sedikit demi sedikit, bukannya belajar seluruhnya dalam satu malam.

Serius, tapi santai. Jangan buat jadi menakutkan. Itu saran gue. Dan itu, dulu, cukup berhasil pas gue SMP.

That's for today, class dismissed.

P.S.
I want to say thank you to my dearest friends of XI-IA-A for arranging the birthday party last Tuesday. It was fun! You guys rock!